HEADLINE

Tajuk - 10 Juli 2011

Minggu kedua bulan ini, banyak sekali agenda atau kegiatan yang dilakukan. Apakah itu hanya sekadar seremoni pelantikan pengurus organisasi tertentu atau rangakaian kegiatan ulang tahun Kecamatan Waykrui dan Krui Selatan—hasil pemekaran Pesisir Tengah.

Tapi, suatu momen yang menjadi salah satu kalender tahunan Dinas Pariwisata, Semarak Wisata Tanungsetia IV di Objek Wisata Pantai Karangnyimbor Pemangku Bumiagung, Sabtu (9/7), jauh sekali mundurnya dari tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa indikator yang kasat mata, misalnya soal publikasi yang sangat minim jika tidak mau dikatakan tak ada sama sekali pada even akbar perhelatan di daerah tujuan wisata (DTW) Lampung itu. Persiapan dan juga koordinasi antarpanitia item kegiatan juga tampak minim.
Pertanyaannya, apakah pada momen tahunan itu hanya sekadar menggelar agenda yang memang telah terjadual, ataukah dimaksudkan sebagai media mengukur kemajuan setiap tahun dan untuk lebih mengenalkan serta meningkatkan momentum seperi itu ke depan?

Jika itu yang dimaksudkan, tentu harus ada peningkatan masalah kebersihan lingkungan, misalnya. Di sepanjang jalur yang dilewati rangkain seremoni wisata itu, nyaris tak menampakkan kesiapan panitia soal kebersihan lingkungan. Tak terlihat upaya kongkret panitia melibatkan masyarakat dalam hal kebersihan lingkungan ini.

Berbicara masalah objek wisata, pengunjung dan rangkaian kegiatan, tentu akan lebih nyaman manakla dilakukan dalam kondisi dan situasi yang aman dan nyaman serta bersih. Persiapan dari pihak pekon sendiri juga tak begitu tampak. Rumput liar masih berdiri tegar di seputaran lingkungan areal objek wisata tempat dimana dilangsungkannya beberapa kegiatan.

Kesimpulannya, tampak ada semacam kemunduran yang sangat nyata. Ini tentu takkan terlihat manakala tidak dicermati secara mendetil dan sungguh-sunguh. Ini juga tentu bukan dimaksudkan hanya mengkritisi tanpa memberikan solusi dan juga pembanding.

Pembandingnya, ketika pergelaran pada even-even yang begitu semarak, kenapa sekarang malah lesu. Solusinya, tentu harus melibatkan semua pihak terkait lainnya. Mulai dari keterlibatan dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar dan juga pihak-pihak yang berfungsi sebagai agen penyaji informasi, termasuk praktisi kalangan media cetak dan elektronik.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah masalah keamanan dan kesehatan, petugasnya harus di-standby dengan peralatan dan “amunisi” yang lengkap untuk mengawal seluruh rangkaian kegiatan. Tentu ini bukanlah akhir. Masih ada kesempatan tahun-tahun berikutnya. Ini juga sekaligus sebagai media koreksi dan juga ajang evaluasi para pihak terkait.

Untuk membangun suatu kekompakan juga tidak mudah, aharus ada ajakan dengan ketulusa. Tak mengedepankan rasa saling curiga antarpanitia, panitia-warga, dan juga pihak penyelengara dalam hal ini dinas terkait, adalah salah satu item yang harus menjadi perhatian ke depan. (*)

Tidak ada komentar