HEADLINE

Semarak Puisi Malam Minggu (Edisi Ke-49)


SEMARAK PUISI MALAM MINGGU (edisi ke-49)

DARI REDAKSI
Kirimkan puisimu minimal 5 judul dilengkapi dengan biodata diri dan foto bebas ke e-mail: riduanhamsyah@gmail.com. Puisi, biodata, foto bebas dalam satu file. Tidak boleh terpisah. Pada subjek e-mail ditulis SEMARAK PUISI MALAM MINGGU_edisi ke-50  (malam minggu selanjutnya). Naskah yg dimuat akan dishare oleh redaksi ke group fb Silaturahmi Masyarakat Lampung Barat (SIMALABA), SASTRA BUMI NUSANTARA, SASTRA KORAN MAJALAH.

(LEMBAR KARYA BERSAMA)



PUISI PUISI ROMY SASTRA

SERUNAI PELUH AYAH BUNDA

kepada peluh
nan mengering jadi debu
berkawan hari
zam-zam menganak sungai
di sela pori
mengais sandang pangan
pagi dan petang
mencipta asa pada buah hati

napas menitip jerih pada riuh
bawalah mimpiku mentari
jangan redup
meski kulit terbakar terik
tergurat di tubuh kian layu

baju berlapis perca koyak dan lusuh
dalam sepi
senandungkan kasih tak bertepi
serunai hati ayah bunda
membelai jemari si kecil menangis

tataplah pelangi nak
jangan kau kejar angin
kan terjatuh pada sepoinya hidup

menunduklah melihat rerumputan
jangan menatap kerlip kan terjatuh sakit
jejak kaki ayah bunda
titipkan nama dan sejarah di dadamu
meski berdarah dan bernanah tak mengapa
asal kau bahagia memetik kilau suasa
jadikan emas permata

HR RoS
Jkt, 26/01/2017 


KEMATIAN

#format_isya
bertamu pada mihrab diri
senandungkan tasbih
fajar menyingsing terik menanti
gerak sulbi getarkan nadi
berpacu darah mendidih

#format_subuh
kepada malam
nan berlalu menyapa siang
silih berganti keniscayaan hari
kapan menemui mati
ketika hidup mengenali Rabbani

#format_zuhur
kenali ilmu belajar mati
bimbingan makrifat pada mursyid
mati tapi hidup
fana dalam salat daim
rahasia hakikat

#format_ashar
hidup semakin menatap senja
tanah merintih sedih
kapan sujudkan jiwa mencari-Nya
jangan menyesal
ketika terbangun dari kematian

#format_magrib
butiran kerlip amal
ataukah debu menutup tubuh
ketika neraca
tak tertitip safa'at Nabi
merugi merintih tak tertolong

HR RoS
Jakarta, 25/01/2017


#Quotes

kepada perisai nusantara berotot Dewa
pertiwi nan berjiwa Srikandi
junjung budi di tanah tirani, waspadalah
jangan kepala terinjak oleh kedunguan diri
sebelum kolonialis menumpahkan darah
pagar betis diper-erat kembali

HR RoS
Jkt, 25/01/2017


SEMUA TENTANGKU 

Berkaca diri pada bayangan silam
menatap hayal dalam kelam
aku majenun paranoid
dalam gugusan cahaya temaram

Dihantui goresan yang menikam
kala gundah membuncah lara
sulaman yang selalu dirobek
ditenun kembali dengan tabah
menjadi gaun-gaun cinta

Semua tentangku,
salah menumpuk dalam tuduhan pahit
aku terima saja meski lelah
kan kucabari ke-egoan bara api
membakar ranting-ranting patah
dalam gentingnya tali buaian kasih
masih tersisa setetes embun
"tuk basahi gejolak tak pernah sudah

Jalan nan berlumpur
pada jejak yang telah goyah
arah mana kan dilalui lagi
jalan itu basah semua, ternoda

Pertemuan sudah tak semesti
genggaman jemari tak lagi mesra
asmara berbunga benalu
titian kasih terurai pada benang merah
melaju gita cinta di arah yang tak sama

Sekuntum bunga nan pernah harum
menutup rindu
larung sajalah rasa menyulam bisu
jika kertas tak mampu membungkus bara

"Ahh... satu kisah
dalam makna lingkaran cinta
jalinan menjadi sia-sia saja....

HR RoS
Jkt,24/01/2017


BUNGA-BUNGA MIMPI 

Skenario hari tentang senja kan pergi
sisakan sunset di kaki langit
menuai malam lelap berselimut mimpi
cerminan diri pada rona hati
terbawa ke dalam layar bayangan tidur

Tentang sekuntum bunga senja
mimosa pudica tertumpang butiran embun
layu tak tersentuh, malu
bunga-bunga mimpi tenggelam tak berkenyataan

Ooh, kabut petang, iringi merpati pulang
malam hampir tiba
sedangkan bidadari enggan merupa
adakah benar bunga-bunga mimpi
kan kembali menari, entahlah....

HR RoS
Jkt, 22/01/2017

Tentang penulis: Romy Sastra, Putra Berdarah Minang Sumater Barat. Tinggal di  Pesing Koneng RT 8/2 No: 55 Kelurahan Kedoya Utara, Kecamatan, Kebon Jeruk- Jakarta Barat.



PUISI-PUISI RIRI ANGREINI

LAGU HUJAN

Jantung kota Bekasi, basah. Seluruh lorong nadi, macet.
Klason kehidupan bersahut-sahutan.
Sedangkan aku, hanyut dan tenggelam dalam deras kebosanan.

Miliaran rintik pun menghambat, segala niat, menyajikan luapan kekesalan. Hingga yang bergenting hanya lagu hujan.

Bekasi, 27 Januari 2017.

SEPI

Hening, detak waktu terhenti. Semesta membeku, tertahan dalam nafas.

Hilang dalam keramaian.
Tetapi, aku tak ingin mati, dalam denyut nadi kehidupan global yang bergelora.

Sebab, kesepian ini mesti kulunasi.

Bekasi, 27 Januari 2017.


SEBUTIR EMBUN

Kau sentuh, daun hati, santun.
Sejuknya menerpa ke lorong nadi.

Seperti nasehat yang merubah arah hidup, menuju kebaikan hakiki.

Bunda ...
Meski hanya sebutir nasehat, yang engkau berikan.
Cukup, menuntun jiwa-raga, ke surga-Nya. Sebab engkaulah surgaku.

Bekasi, 22 Januari 2017.


HADIR

Aku di sini, mengisi kekosongan jiwa, mengobat luka yang menyayat asa di batas lara.

Aku bukan siapa-siapa, selain setangkai angin, yang berbisik pada daun, bukan untuk menumbangkan pohon, tetapi sebagai pengisi ubun-ubun daunmu yang kosong.

Aku tinggal di hembusan angin, bertemankan aksara yang membungkus, penuntun langkahku, memetik satu purnama yang pernah menjingga di matamu.

Bekasi, 10 Januari 2017.


MENGUKIR KISAH

Tanpamu, apa jadinya.
Sementara, banyak ukiran jejak telapakmu
masih membekas di tepian pasir ingatanku.

Dan-
kisah itu, masih sempurna terpajang
di bebatuan karang pantai carocok.

Di antara tawa renyah
dan belai mesra penuh kasih
masih terasa lewat bayu senja.

Entah kapan usai.
Aku pun masih bertanya pada ukiran kisah.

Bekasi, 27 Januari 2017.

Tentang penulis : Riri Angreini lahir di Padang Panjang, Kambang, Sum-Bar. Anak ke empat dari lima saudara. Masa kecil aktif di sanggar Randai Kambang Kunango. Saat ini tinggal di kota Bekasi, Bintara Jaya, Jawa Barat.



PUISI PUISI AHMAD RIFA’I

BEGITU BESARKAH SALAHKU

Tuan!
Tidak kah terpikirkan olehmu di saat benih telah tumbuh?
Dia telah memberi harapan betapa mulianya jika dirawat.

Di atas semaian ini, mengapa kau tuangkan herbisida yang seharusnya pupuk kau tabur. Dan, kembali kusemai meski sampai kapan menunggu.

Namun! Lagi dan lagi itu terulang.

Tuan, kini semangat telah hilang bersama terik mentari membakar kulit ari
rasa yang tak lagi bisa terbendung meski senja telah datang.

Bahway, lampung Barat 16 Januari 2017.


PILU MENGHAMPIRI

Kembali pesan singkat mewarnai hari ini, begitu dan selalu begitu yang kubaca. Terenyuh hati akan kekata di balik layar kaca.

Senyum tak lagi terlahir dari bibir yang kian kelu, keringat dingin pun menggelinding basahi dahi. Sedu sedan menyeruak dalam jiwa.

Sungguh-

tiada kuasa kubendung derai air mata
dalam doa nan terbata, harap akan segera terlepas dari derita, kau lah mutiara dalam hidup. Ibu.

Bahway Lampung Barat 20 Desember 2016.

Tentang penulis: Ahmad Rifa'i, tinggal di bahway kec balik bukit, kabupaten Lampung Barat, profesi sehari hari petani di perkebunan kopi, tergabung di komsas simalaba dan beberapa karya telah terbit di media online wartalambar.com.  akun fb Putra Bwi, wa 085658985495



PUISI PUISI ANDI IDENG

JANJI BERUJUNG DUSTA

Senja ini, tak lagi secerah kemarin, yang penuh canda dan tawa menghiasi hari-hariku, kala lelah, meretas angan di ujung jalan.

Engkau telah berdua, bahagia bersamanya, sedang di sini aku masih terus memungut harapan yang patah, dari perih lumatan kepalsuan.

Dan, sepertinya engkau telah lupa, setangkai janji itu, yang di satu tempo pernah terikrar.

Semuanya kini sudah membasi di benakku, terkubur bersama beribu dusta.

Soppeng Makassar, 19 januari 2017.


KOLAM SUSAH

Konon, orang-orang bilang, negeriku adalah tanah surga.

Namun, derai air mata masih terus membanjir, di sela isak tangis perut keroncongan.

Katanya lagi, Indonesiaku kaya dengan hasil bumi, yang melimpah ruah.

Tapi ditengok, antrian beras sembako, ludes di sambar pundak kaum fakir.

Kemakmuran, yang kerap di beritakan, di media-media, hanya sebatas kicauan para pedasih.

Lautan emas, selama ini jadi impian, dengan berat hati, kolam susah kenyataan, yang harus di tempati untuk berenang.

Cobalah, sesekali intip celah jendela kehidupan.
Di luar sana tuan!
Ada apa dengan mereka?

Dan, jangan pernah bertanya kepadaku, tentang sebab dan kenapa, karena jawabnya bukan di sini.

Soppeng Makassar, 20 Januari 2017.


PUNGGUK MERINDU

Dalam redup purnama, terselip cahaya bergelayut manja.

Ialah bintang kejora, bersenandung lirih, di sela kerinduan panjangku.

Ada jarak memisahkan pijakan kita, namun engkau tetap tumbuh utuh dalam nadiku.

Kuinginkan segala beda ini, berbaur dalam ikatan rasa, walau tertatih, merangkai sebuah penyatuan jiwa.

Bagai pungguk merindukan bulan, kisahku menyembul malu, keyakinanku pongah, untuk, mencintaimu hingga akhir masa.

Soppeng Makassar, 20 Januari 2017.


SEPI

Kucari bayangmu, pada malam yang datang bertamu.

Namun tak kutemui juga, kala larut dini terintip mentari pagi.

Ada, getar-getar rindu, menyusuri celah di ruang jiwaku, ketika indah senyummu, tidak lagi mengusik sepiku.

Berandaku terdiam membisu, laksana penghuni kuburan, sibuk menata mimpi.

Adakah engkau baik-baik sayang?
Semoga saja tetap dalam ridhohnya, itu yang kuharapkan.

Sebab tanpa keberadaanmu di sisi, hari-hariku akan terasa sunyi dan hampa.

Karena sesungguhnya, dirimulah jingga dari warna pelangiku.

Soppeng Makassar, 22 Januari 2017.


GENERASI PELET

Suara bocah-bocah bersorak ria, di samping sebuah gudang tua.

Petak umpet sedang dimainkannya, berlari di sela tawa lepas tanpa beban.

Polos dan lugu, nampak di balik rona wajahnya.

Adalah ia!
Yang tak pernah merasakan getirnya hidup yang sesungguhnya.

Cepatlah tumbuh!
Wahai generasi.
Jangan malu untuk genggam dunia, dengan getah-getah di tanganmu.

Agar kelak hidupmu tidak pinter-pinter percuma, seperti seruan para pujangga.

Dan, jika kelak sayap-sayapmu mampu terbang menembus langit.
Maka pulanglah pada asalmu!
Sebab, kalianlah tulang punggung Negeri ini.

Soppeng Makassar, 22 Januari 2017.

Tentang penulis: Andi Ideng tinggal di Jalan watanlipu, desa Donri-Donri, di samping SD Negeri Tajuncu, no 59, Kabupaten Soppeng, Makassar. Ia seorang Wirausaha dan hobby Menulis puisi.


PUISI PUISI FARHAN ARYA

DEWIKU

Kaulah cahaya, iringan tangan yang tak luput.

Kau lenakan kami, sebuah kasih, yang mengalir bagai sungai.

Jika ada kumbang yang datang
songsonglah!
Jangan tutup katub bisumu, bahagiakaanlah dirimu!
Sebab, pengembaraan masih panjang.

Sudahilah tidurmu, sebab kami, anak-anakmu
merestui
dan pintalan doa mengalir, untuk dunia yang kau jajaki.

Salam dari kami, penuh cinta kasih.
Semoga sebaris bahagia
akan bergantung di pundakmu.

Sudut Bumi, 24 Januari 2017.


SAPAKU UNTUKMU

Sayu wajahmu, menghias jantung pagi, membuatku merinduinya.

Dan-

dalam benak pengembaraan
dukamu
iringi langkahku, di setiap pagi.

Tapi ...
Lihatlah!
Kesejukan kota menghampiri, rekahan bunga masih mewangi dan hijau dedaunan rindang
menunggumu memintal kasih.

Hentikan segala keluh!
Biarkan badai berlalu sempurna.

Sudut Bumi, 24 Januari 2017.


MAYA

Bulir sinar membentur dinding tiap manusia, cahaya langit menyentuh pesona keindahan maya.

Lantunan suara bising menjadi bangkai, terhempas indahnya sajian morgana.

Mata membias warnai segala bentuk rupa, keajaiban maya tampil ribuan warna, hinga terjebak dalam balutan kisah, dan mati dalam pengharapan panjang.

Kramik, 24 Januari 2017.


BICARALAH SEBELUM AJAL MENJEMPUTMU

Adalah suatu kisah perjalanan, terbungkus oleh indahnya sebuah kata, namun tak terbaca.

Kala itu purnama masih tersenyum manja, manik hidup hiasi rintihan lara, dalam diam ingin memintal rasa.

Lihat kini, tubuhmu terbungkus api kesunyian, dan menjadi abadi, hilanglah sebuah kalimat hati yang tak tersebut, karena nyawa telah terjemput.

Kramik, 24 Januari 2017.


MENCARI JAWABAN

Penyatuan alam menjadi suatu kebutuhan pada sebuah hati, yang mendamba kesejukan, dalam mengarunggi hidup.

Warna pelangi berupa alur hidup yang melambai, dengan sajian cerita yang berbeda, seperti pergantian hari, ada siang, sore, malam, dan pagi.

Dan kejujuran alam pelengkap sajian bisu .

Dari sudut terdalam bumi, membuncah kisah raut wajah alam, menyiarkan keteduhan, menyibak ketidak-berdayaan.

Ah mengacaulah rintihan hamba pada butir percikan air yang tumpah dari mata air, bicaralah!

Sudut bumi, 24 Januari 2017.

Tentang penulis : Farhan Arya Handeka, tinggal di Jl dukuh 5 kelurahan dukuh kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Ia berstatus Siswa SMP 24 Jakarta.



PUISI PUISI NENI YULIANTI

WANITA KARIER

Adalah Ia!
Wanita pengejar ilusi, terbangun di setiap mimpi. Bergelut dengan kecamuk dada, terobsesi misi.

Dan-

ketika fajar, Ia memeluk tubuh nan gemulai, dengan semangat, terpompa di nadi. Adalah Ia!
Yang menutup telinga, kala pandangan telak, menusuk mata, dengan mulut terkatup, terurai butir-butir doa. Sebab Ia, pelukis senja, dengan warna pelangi.

Cirebon, 24 Januari 2017.


BUNGA

Bahkan bunga pun tersimpuh, malu
di kala merekah di tepi padang, waktu hening, pagi terbit.
Kumbang pun menghampiri
Ia terbang berputar-putar
hingga netra tak kuat menahan.
Hai kumbang!
Apa yang kau cari?
Secawan madu!
Atau sekelopak bunga, yang menarik hati.
Ataukah Ia!
Yang layu kala bosan
dan di tengah lalat enggan berbagi.

Cirebon, 22 Januari 2017


MURABBI

Murabbi,
aku berdebu
tak tahan, netraku basah
sembilu menyelinap di relung jiwa
mengiba pada kanvas Allah.
Wahai Murabbi,
jadikanlah aku Mutarabbimu
pengikut halaqah di setiap waktu
di telaga ilmu aku menyelami
sejuta pesona kelembutan dan kesabaran
hingga binar cahaya terpancar di hati.

Cirebon, 14 Januari 2017


AKU WANITA SENJA

Aku wanita senja
memburu waktu demi nadi kehidupan
berkawan debu bermandikan peluh
penerjang terjalnya jalan
di pekat polusi menyelubungi badan.
Aku wanita senja
melukis fajar dengan warna
mengiba pada kanvas Tuhan.

Cirebon, 8 Januari 2017


KISAH MALAM

Bongkahan rindu, mencair bersama rinai, mengecup kenangan, yang damai di noktah silam. Dalam hening, berselimut malam, sebaris pikiran, anggun, takjub.
Ada desiran ... sejuk bersemayam di hati. Mengalir menguas warna cerah, hingga usang. Ada pesona mengharu biru, di ujung tatapan yang terbuang.

Cirebon, 26 Desember 2016.

Tentang Penulis : Neni Yulianti tinggal di Kota Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan bekerja di perusahaan swasta. Hobi menulis puisi.



PUISI PUISI AAN HIDAYAT

MELUPA ARAH 

Sudahlah kawan, lupakan saja tentang kekatamu, lempar saja pintu rumah ini dan biarkanlah secangkir kopi hangat itu menjadi kenangan.

Dan dari balik jendela coba kulihat langkahmu yang sempoyongan membawa ambisi, melupa arah jalan kerumahmu.

Hai-hai!
Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?
Lidahmu gemetar suaramu lantang, sehingganya rinai hujan dan petir kau ajak bertikai.

Wahai kawan, lihatlah aku yang masih terpaku menanti janjimu dari balik jendela ini.

Lampung Barat, 24 Januari 2017.


LUKA DI JALAN ITU

Jalan itu kini kutapaki kembali, setelah sekian lama kucoba menghindarinya.

Ada luka yang dalam tertinggal di sana,
meski telah tertimbun debu dan tergilas waktu.

Sejenak langkah ini terhenti dan menyeka peluh yang melintasi mata, berharap jalan itu sepi dan mereka tak lagi menatap tajam jalanku.

Bandar Lampung, 18 Januari 2017.

Tentang penulis: Aan Hidayat adalah seorang wiraswasta mebel di pekon Gunung Sugih Liwa, ia juga intens mencurahkan kegelisahan hatinya melalui puisi dan tergabung dalam sekolah menulis sastra dunia maya KOMSAS SIMALABA.



PUISI PUISI Q ALSUNGKAWA

TARIAN SEPASANG SENJA

Wah!
Kenapa tuan bicara tentang rindu?

Baiklah ... aku pejamkan dulu mata ini. Menggali sepasang mata di pesisir, yang terkapar, sebab beradu pandang, hingga bersamaan mengalihkan pada segerombolan ombak, berusaha menenggelamkan gemuruh, yang mencolek ganjen, di hulu dada.

Hmmm!
Bisikan Camar itu, kembali menusuk lipatan rindu, tentang laut, tentang senja, tentang rindang pohon waru, tentang apa-saja, yang tertimbun di sebuah kotak warna, yang kusebut kenangan.

Ya! Meskipun terselip sedikit coretan yang menyebalkan, tetapinya, itu selalu menyelinap, sesungging, yang menggelikan bahasa bibir. Ketika sedikit batas yang terlanggar, yang menyipu ronanya, bahkan ada beberapa waktu yang merajuk, hingga angin laut menguaskan cemburu dan enggan menarikan helai-helai rambut, ketika percintaan kembali menghitung butir-butir pasir.

Lampung Barat, 16 Januari 2017.


BANGKU CADANG

Kembali pada sesosok kemarin
yang
dengan sabar mangajarkan tentang lusa. Ia bangku cadangan, dari banyak hal yang dipertikaikan.

Dan masih tercium aroma hanyir
yang tumpah di belahan pertiwi
guna meluruskan matahari si bungsu.

Dan siapa di sana?

Ya! ... tentu.
Di pundakmu mawar-melati
dan kau, adalah perjalanan ke taman
tentu, sebaris catatan di plang, yang sebagian hurufnya telah berguguran.

Lalu, sebungkus abjad, yang dipungut, ketika Rektor memaki kebodohan, hingga memaksa berkelahi denga waktu, dan bersikeras mengungguli rumus-rumus yang memukul benak. Tentunya ada sebagian makna yang menjadi hak anak bahkan si cicit bungsu.

Sebabnya Ia tunas-tunas Bhinneka, yang gerah
atas bahasa tubuh yang bertengkar arah.

Lampung Barat, 19 Januari 2017.


SELENDANG MAYANG

Bidadariku, baru muncul, sebuah aroma yang khas ala cirebon, tentunya nyaman di hidungku.

Bolehkah kukatakan satu hal?

Tentang rasa yang pengecut, enggan meneriakan bahwa iya begitu memujamu.

Kecipak rindu, di cerug malam, merintih, sebabnya gemuruh yang bungkam
dan demi tak terusiknya hati yang koyak.

Sesungguhnya, mantera yang kubacakan, adalah menawar segala mati rasa.

Ya---h sudahlah, esok kau akan melihat senyum yang kutitipkan pada semburat mentari pagi.

Lampung Barat, 20 Januari 2017.


SAJAK PERAHU KERTAS

Sedalam itukah kebencianmu: Mira? Hingga membawa ke ruang rasa dan menggantikan warna bahagiamu.

Ya! ... hal yang paling naif, ketika kita melukai kemesraan dan membiarkan banyak waktu dicatat kebencian.

Mira---

kenapa kita terus bertikai, sementara di sudut yang dirahasiakan
kita menyembunyikan kerinduan?

Satu per satu, berjatuhan butir almenak, menimbun senyum dan hujan yang dulu menggiring kita, pada bangku pertemuan, yang berujung pada cerita sebelum tidur.

Tetapinya, sebuah persimpangan, adalah perangkap dan kita, dalam tawanannya, lalu kau mengoleksi kebencian, yang kau jadikan alasan untuk melupakan hujan.

Dan aku.
Selalu bermesraan pada syair-syair cinta
ketika hujan
dan sajak-puisi yang menjelma perahu kertas, mendayu ke hilir jauh, hingga lenyap meninggalkan pandangan.

Lampung Barat, 25 Januari 2017.


BULAN MENDARAT DI MALAM JUMAT

Malam jumat. Sayap-sayap kemilau, penjemput butiran bakti. Satu di antaranya enggan pulang---

menjelma: Alqi Ankasa.

Cepatlah dewasa engkau puisi, cakra yang kugereskan di genggamanmu
bekal untuk merobek jala dunia, yang tampuknya nyangkut di kepala batu.

Hentakkan tumitmu jenderal sastra!
Hingga ruangan itu pecah
dan hantu-hantu yang mengangkang di kursi ajaib, dikembalikan ke bilik semestinya. Sebab ia setara kecoa.

Pekikkan tangisanmu, nak ... hampiri langit-lagit kota
dan bacakan sajak nasehat untuk orang yang mengenakan baju hitam.

Lalu selamatkan bahtera pertiwi dari gelombang egois, di laut menganga yang selalu kehausan napas-napas bumi.

Lampung Barat, 26 Januari 2017.

Tentang Penulis: Q Alsungkawa, bergiat di komunitas sastra di Lampung Barat (KOMSAS SIMALABA), ia mempulikasikan puisi-puisinya di media online www.wartalambar.com, Saibumi.com dan Lampungmediaonline.com



PUISI PUISI M SARJULI

MABUK LAMPUNG JAKARTA

Bicara Jakarta, mabuk.
Tersusun rapi harap dan jemu, terikat rapi di kardus mie instan
entah berapa ratus kali kepala terbentur jendela kaca, intonasinya tak teratur.

Beberapa lembar kertas hasil belajar dua belas tahun kudekap, terselip bersama baju putih pembelian Ibu di pasar jumat,
dengan rasa takut kehilangan.
Tidurkupun terjaga.

Jakarta.
Linglung kau buatku
tidak lebih baik dari kampungku
saat ramah sudah dibuang tak ada tatakrama,
kedatangan jadi sasaran untuk harapan penyambung hidup.

Lalu-
ada apa dengan Lampung?

kata yang sama kudapatkan sebelum keluar dari pintu-pintu kantor itu.

Jakarta lebih baikah kau dari pada Lampung?
Esok aku mabuk lagi Jakarta-Lampung.

Jakarta, 12 Januari 2015.


KETIKA HUJAN MALAM

Linglung mencari tanah basah
aku ke sana mengejar hujan, tanah kering.
Baunya tak kucium.

Ah!
Pusing!
Ketika keinginan menggerogoti isi kepala
yang selalu bicara tentang musim hujan.

Simpang Tiga, Air Hitam, Lampung Barat, 21 Januari 2017.


KETIKA AIR MENENANGKAN

Puaskan kehausan.
Teguk sebanyak-banyaknya
menikmati air pegunungan yang mengalir lembut di pancur bambu
beraroma kesejukan embun
dan bau dedaunan basah.

Lalu,

menikmati nada-nada alam yang teralun bersama tiupan angin
membiarkan gemercik air menbawa resah jiwa ke hilir bersama dedaunan.

Hanya dengan menemukan tempat yang pas maka jiwa menyatu dengan alam
di mana hanya air, dan nyanyian alam yang mengerti akan arti ketenangan.

Way Napalan, 24 Januari 2017.


SAMAKAN

Teriak, menagis dan bahkan (maaf) mengucapkan kata tak senonoh
saat itu pergikah Tuhan membawa nikmat yang kau nikmati?

Aku pun sama,
aku tak lebih baik dari kalian
yang membedakan aku dan kalian dikalimat yang terucap.

Tak terhitung kalimat kotor
Bisa kuingat berapa kali bertutur sopan.

Sejajarkan aku dan kalian
maka lebih baik kalian.
Sampaikan pada Tuhan aku menyesal.

Lampung, 23 Januari 2017.


RANGKUMKAN KALIMATKU

Hentikan waktu beberapa menit saja Dul.
Aku lelah,
lelah batin, lelah pikir, lunglai badan.
Tidurkan aku Dul.
Aku merasa puas hidup.

Simpang Tiga, Air Hitam, Lampung Barat, 22 Januari 2017.

Tentang Penulis: Muhammad Sarjuli, menyukai puisi sejak kecil dan tergabung dalam KOMUNITAS SASTRA SIMALABA sebagai pengurus. Karya-karyanya aktif di publikasikan di berbagia media di antaranya wartalambar.com saibumi.com lampungmediaonline.com karyanya dibukukan bersama sastrawan Jawa Timur  dan Lampung berjudul BULAN SEMBILAN dan EMBUN DI LERENG PESAGI, serta tiga karyanya lolos dalam event kopi penyair dunia berjudul Kumpulan Puisi Kopi 1550 MDPL.



PUISI PUISI ABI N BAYAN

DI MALAM SEPI

Jiwamu ke mana
sementara ragamu merana
bimbang di bawah sengsara.

Ternate, 22 Januari 2017.


TUNGKU PENGKHIANATAN

Ketika aku menangis
apa yang kau katakan kepada langit?

Sementara!
Segala janji memakan hati
berjumlah tanya, menyulam bara.

Apa ini, yang kita sebut cinta?
Atau, sebuah tungku khianat.

Ternate, 23 Januari 2017.


ANGIN PEMBERONTAK

Kaukah angin pemberontak itu, yang menumbangkan daun-daun, di halaman rumahku.

Dan-

di atas guguran itu, kau tertawa penuh sinis.

Lalu ketika segala sudah berserakan, menjadi bangkai tanah, kau menginjaknya dengan angkuh.

Dan aku, hanya bisa meremas-remas biji hati. Sebab kau, hanya sebuah angin yang tak mungkin kudekap, dengan tanganku.

Sekarang, apa maumu?
Sepertinya, kau bisu.

Tapi ...
Membius.

Ternate, 23 Januari 2017.


LELAKI OMBAK

Kau adalah langit, tempat bergantungnya gerimis dan matahari.
Sedang aku, adalah ombak yang amuk, kala musimnya.

Tapi-

aku pecinta, bukan peminta.

Maka, berpikirlah!

Ternate, 24 Januari 2017.


PEREMPUAN SAJAK

Aku melihatmu, di jalan itu. Seperti puisi yang tertatih-tatih, memikul kata.

Tapi, hanya api yang menyala di tubuhmu. Dan berjejak di ambang sajak.

Ternate, 24 Januari 2017.


SEMUSIM RINDU

Kapan? Aku bisa membaca bahasa hatimu.
Jika ombak di dada, sudah pecah-pecah, menghantam puisi.

Sementara semusim rindu
masih bertunas
menghampiri pohon pohon jiwa
hingga berbuah melumatkan dada.

Dan-
dari kesekian kata, yang terlampir di atas meja
hanya menguap satu abjad, rindu!

Dan ...
Angin terus membisu, menutup kabar dari Tidore. Hingga di Gamalama, laksana malam ingin berdarah
menebar pilu di atas kuburan.

Tetapi, belum kudapati gerimis mengabarkan sepotong kata, yang bergenting hanya sebuah kesepian yang mengejek bahasa jiwa.

Lalu-

melumpung di kampung sunyi.

Ternate, 22 Januari 2017.


RINDU DI LANGIT TERNATE

Sudahkah kau lunasi hutang Januari.
Tentang Ia yang menanti di batas kota
dan tiada sepenggal kata, yang menguas di bilik laranya.

Sementara mentari yang kesekian kalinya, telah datang memeluk Ternate.

Tetapi, panggung penantian belum juga dipatahkan. Hingga yang menguap hanya butir-butir sajak, yang berkisah tentang musim rindu.

Berapa lama, hari-hari mesti remuk bersama rindu.
Jika sungai dan laut sudah saling menendang.

Semoga kau masih mengerti apa itu bahasa hati
sebab rindu, adalah sebuah kecemburuan yang meminta kau datang 'tuk menjamu.

Dan di langit Ternate, rindu telah bertengker sepanjang matahari.

Ternate, 23 Januari 2017.


ADA YANG BELUM BISA KUBACA

Di antara kata yang retas dan luka yang masih bernanah. Semisal hujan yang turun tanpa kabut
dan di satu tempo aku terdiam dalam lubang perenungan. Mengeja satu jengkal waktu yang berjalan seumpama kapal yang tenggelam di segitiga bermuda.

Sungguh, ada yang belum bisa kubaca. Meski setiap kata sudah kubelah dengan pedang yang kuusung dari kilat, dan kupanggil matahari sebagai surya penerang. Bahkan lautpun sudah kuselami, hingga pada kedalamannya.

Lalu bagaimana, aku menyeru angin dan berbisik pada daun. Sedang akupun masih bertanya pada dinding-dinding bisu, yang tidak mungkin memberi jawab dalam satu titimangsa, bukan?

Aku tidak berani, mengambil masa dan memutar waktu yang telah silam, juga kenangan yang berbau dupa peluru dan pengasingan.

Aku pun tak berani, menahan debur ombak yang marah bersama sekutu.

Sebab, keberanian yang kutanam hanya satu; ialah jujur.

Ternate, 12 Dsember 2016.


SATU CERITA YANG HILANG

Entahlah, ini seumpama bunga tidur di siang hari, kemungkinan besar tak memberi apa-apa.
Selain sebuah cerita, yang makin tipis dimakan puisi.

Sebab masa belum sempat adil, memberi jalan 'tuk sebuah perjumpaan. Hingga segala rindu meminta sabar.

Tetapi aku tak ingin, ada cuplikan cerita yang hilang di antara kita. Karena sebuah perjalanan akan terasa indah, bila kita berjalan sambil bergandeng tangan.

Bukannya ini yang kita harapkan, atau aku harus bagaimana?
Jika sebuah sapaan menjadi kadaluwarsa.

Apakah aku mesti diam dan tersenyum meremas-remas perih yang kian nyerih. Ataukah, kita mengatur rencana, 'tuk sebuah pertemuan
dan menjahit benang-benang cerita yang kusut. Ataukah, kita bentangkan jarak dan berkata pada langit:

"Cinta telah mati, segala cerita makan hati. Maka jangan berharap sebuah perjumpaan."

Tidak, tidak!
Aku tak mau hal ini terjadi.
Sebab lukaku, mesti diobati dengan sebuah cerita yang hilang.

Ternate, 26 Januari 2017.


KATA KATA PENGGODA

Sajian pagi yang luar biasa, manisnya melumatkan dada.

Tapi pahitnya tak bisa disangkal, sebab bukan biasa-biasa saja.
Seumpama nasi yang berubah jadi bubur, lembek.

Lantas untuk apa menggoda?
Sementara, pada sore yang muram, kau tinggalkan Ia dalam taburan keperihan.
Hingga laut mengamuk, bagai halilintar yang merobek telinga Gamalama.

Baiklah-

jika itu sudah menjadi kebiasaan.

Tapi ingat!
Cermin tak pecah di hadapan wajahku.

Ternate, 25 Januari 2017.

Tentang Penulis: Abi N. Bayan tinggal di Supu, Kec. Loloda Utara, Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Abi N. Bayan, Penggiat seni tulis, Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (KPJ MALUT), dan tergabung di Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (GAMHAS-MU). Puisi-puisinya tersebar di media online.



PUISI PUISI MIFTAH SHOFIYAH NOVIANTI

PENENANG DAN KEGADUHAN

Langit akan melambaikan tangan pada kita,
angin kan membelai kita,
matahari akan mencium hati kita.

Saat hamparan waktu
memaksa raga sejenak terpisah ,
dan mulai merajut asa.

Kau kan hidup,
menggali meski bersama ketegangan.
Rasa was was akan hati yang digaduhkan cobaan,
cobaan akan riuhnya kehidupan.

Kerangkamu yang menjadi penopang,
kan menjadi saksi kebimbangan
beratnya menyusuri jalanan.

Langit telah meyakinkan,
hari kan terang benderang
tak kan diselimuti kesengsaraan.
Tapi hati riuh bak demonstran.

Air Hitam, Lampung Barat, 19 November 2016


MENGUBUR BELIA

Dan berlalulah beliamu.
Hingga kau selalu tersandar di pelupuk ibumu.

Mata yang semakin sayu direnggut waktu.
Dan bibir, yang tiada henti mengalimatkan doa,
dari usia dini hingga merambah dewasa.

Ketika kah diterik mentari,
bergejolak, berambisi
meninggalkan semua kisi kisi.

Melangkahkan kaki dipertikaian hidup,
dan tak ayal, suatu pilihan,
bagai bumerang yang mematikan.

Air Hitam, Lampung Barat, 20 November 2016


PELAYARAN

Kapal telah benar- benar berlayar,
ombak telah bercerita padaku
denting jam telah memberitahuku.

Kini sepi,
pulang tak lagi berpenghuni.
Kapal dari dermaga itu
telah jauh dari mata.

Jiwaku meraung,
dahagaku membara
ragaku renta,
tak ada lagi canda bersama nahkoda.

 Hitam, Lampung Barat, 21 November 2016


GEMURUH DALAM KETENANGAN

Memandang ujung samudera,
gemetar seluruh jiwa
seakan sesosok hantu memeluk raga.

Jiwaku terhantam,
ketakutan akan terbenamnya bintang
dan matinya matahari penerang.

Entah aroma mawar yang kan mekar,
dengan aroma mewangi,
atau datang duri kegelapan.

Siang berteman malam,
matahari, bulan dan bintang.
Mentari ada di sini
dengan gemuruh memeluk.

Erat ia memeluk,
rindu menyelimuti
mengekang kehidupan.

Sejuta angan,
tentang hari depan.
Matahari dan pelangi yang terbayang
meski separuh hati terbang melayang.

Way Tenong, Lampung Barat, 23 November 2016


MALAIKAT PENEBAR ILMU

Wajahmu yang kian layu,
dengan semangatmu yang masih menggebu.
Kau berikan tongkat tongkat kehidupan,
untuk anak anak didikmu.

Kau siapkan sejuta ilmu,
untuk ombak dan tombak masa depan
dunia yang semakin terngiang,
membuatmu semakin gigih berjuang.

Sedang kami butiran kecil debu,
tak memberi harga untukmu.
Untuk sekedar menghormatimu
lagi kami pun tak mampu.

Atas lalu bisu anak anakmu
kau obati dengan segenap relamu.
Betapa kami durhaka padamu,
Ibu Bapak guru.

Way Tenong, Lampung barat, 25 November 2016

Tentang Penulis : Miftah Shofiyah Novianti tinggal di Pekon Semarang Jaya, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat. Miftah Shofiyah Novianti, siswa dari SMA Negri 1 Way Tenong. Merupakan salah seorang pecinta seni, khususnya puisi.Bercita - cita menjadi penulis. Miftah Shofiyah Novianti juga tergabung di Komunitas Sastra Silaturahmi Masyarakat Lampung Barat (KOMSAS SIMALABA).



PUISI PUISI DHEWIE

SURAT CINTA UNTUK ARYA

Masihkah kau ingat kopi hitam yang kusuguhkan bersama sepiring kue kering waktu itu?
Masihkah pula kau ingat deras hujan dengan tempias tempias kecil yang pernah buyarkan angan kita?
Mereka seakan tahu bahwa memang benar kita tengah tersipu malu,
malu karena itu adalah kali pertama kau menghampiriku bersama  senyum manis di sudut bibirmu.
Dan,
aku pun masih ingat
pada kecupan hangat yang pertama kali mendarat di pipiku.
Singkat, namun terasa nikmat.
Senikmat kopi petang kala itu, iya kan, Arya?

Haah ...
andai saja hujan mampu bawa kau kembali
mungkin sunyi tak kan pernah menghampiri lagi.
Sebab,
tawamu adalah inspirasi
mampu lukiskan ilusi
pada daun daun kecil bernama imaji.

Kediri, 27 Januari 2017


SEGUDANG RINDU UNTUK AQILLA

Aqilla,
saat senyum masih mengembang di bibirmu, kuacuhkan itu.
Saat jerit tangis memekakkan telingaku, itu pun kembali kuabaikan bahkan pura-pura kutulikan telingaku.
Dan,
saat suaramu yang cerewet membuat ruang kerjaku bergema,
gaduh hingga porak-poranda
kumarah padamu ...!
Kukatakan, "diamlah!"

Namun,
saat matamu tak lagi terbuka
senyum tangismu tak lagi ada
dan kau diam untuk selamanya.
Aku hanya bisa menangis dalam diam
menyesal dalam angan
dan merindukanmu di kesunyian malam.

Tuhan,
rindu ini benarbenar begitu menyesakkan
tanganku gemetar
dan mataku kabur oleh airmata.

Kini kenangan itu merupa pelangi
hanya bisa kupandangi
lewat bingkai bingkai kecil
di tiap sudut dinding rumah ini.

Kediri, 27 Januari 2017

Tentang Penulis: Dhewie, tinggal di Kota Kediri Jawa Timur. Ia menyukai sastra sejak menduduki bangku SMK. Tercatat sudah beberapa kali ikut antologi dan beberapa kali menjadi kontributor event puisi. Ia juga sudah merilis satu buku puisi tunggal yang berjudul 'Tentang Sebuah Rasa' dan ia dapat dihubungi lewat akun fb : Dhewie, email: dimas.dewi23@gmail.com.



PUISI-PUISI BUNDA SWANTI

KEKASIH TERSEMBUNYI

Dalam diam rindu, aku mendayu
mengeja hari
kusesap candumu, hingga habis.

Akulah pungguk
teramat menyayangimu
sekalipun hampa.

Kutahu, pastikan rasaku menggila
tergoda aroma dewi cinta.

Rasa yang kau ciptakan
tetaplah sama
bersemayam di palung jiwa
dan abadi selamanya.

Rokan Hillir, 16 Januari 2017.


TIGA RASA BERSEMBUNYI

Setangkai kembang wangi
telah kau curi, dari taman surgawi
putih berseri bunga nan elok.

Bunga terlena dalam dekap
berharap mentari utuh memeluknya.

Si putih berharap penuh cinta, layaknya di surga dahulu.

Sayang ...
Mentari sering lupa pada janjinya.
Maka berusahalah menekan gejolak
memintal benang rindu yang kian melara.

Tak hirau apa kata mereka
tetap memendam rasa yang sama.

Kini ...
Si putih semakin layu
merana dalam senyap
membungkusnya
dalam pilihan rindu yang tersembunyi ...
Di palung hati terdalam.

Si putih tak pun marah
pada sang mentari
sekalipun benci membara dalam jiwa
sebab Ia mengerti dan merasakan tiga rasa ... yang indah.

Rokan Hilir, 17 Januari 2017.


LUKA RINDU

Tak sanggup kutahan
tentang rasa, yang menggunung rindu.

Tapi-

sayangnya kau abaikan.

Hingga berlahan, akupun layu, rinduku menjelma duka, penuh luka.

Mengapa tegahmu, menghitamkan putih hatiku.
Baiklah
biarlah, kusesap sampai akhir.

Rohil, 22 Januari 2017


UNTUKMU NAS

Senyum manis menghias, di setiap guratan senyummu
tawa renyah terus mengalir.
Laksana hujan yang begitu indah.

Nas ...
Kejora di mata itu, ada banyak lipatan memori
yang sengaja kau simpan dengan apik.

Kini, senjapun menggelayut manja.
Torehkan kenangan manis
Kisah lalu.

Langkahmu kian pasti
genggam dunia utuh.

Rohil, 11 Januari 2017.


ILALANG

Kujumput ilalang di padang gersang
kusibak semaknya belukar, terkuak senyum patah.
Pipit kabarkan tentang patah sayap itu.

Semakin kupilin ilalang
lolong srigala menggila, memecah kokoh karang di tengah samudra.

Ah, ingin kusibak, tabir di balik patahan senyummu.
Agar bisa kumengerti duka melara di dadamu.

Biarkan, kugenggam baramu dengan ketulusan hati.
Agar mendingin kemudian padam.

Setelahnya, kunyatakan cinta
agar lolongan srigala tak terdengar lagi
dalam setiap langkah kita.

Rokan Hilir, 9 Januari 2017.

Tentang Penulis: Swanti, Spd.AUD adalah seorang Kepala Sekolah TK Mardhotillah. Jln Pelita Km 22 Bangko Lestari. Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir-Riau



PUISI PUISI SUYATRI

ABRASI KATA 

Larikku telah tenggelam bersama mimpi yang seram
Aksaraku telah menghilang bersama malam menghitam
Kekataku sirna di wajah muram
Di penghentian goresanku mulai buram

Senarai tanda menghadang rasa
Gugusan sajakku hilang makna
Revolusi waktu di titik jeda
Limbung bias tanda tanya

Abrasi hati hilang kendali
Erosi jiwa tergerus janji
Hati bersekutu dengan ambisi
Mengikat angkuh bersama emosi

Kolaborasi paradigma semu
Pencintraan semakin berseru
Riasan wajah bertopeng seribu
Otoriter mencekik tanpa malu

Ujungbatu-Riau, 04 Desember 2016


JALAN KENANGAN

Hatiku rindu tiada bertuan
Terkubur tiada bermakam
Teringat akan kenangan
Terbayang di masa silam

Pelabuhan Belawan di Medan
Menanti nelayan membawa ikan
Kenangan takkan terlupakan
 Kisah bersama anak jalanan

Martubung menyimpan kisah
Telusuri jalan sambil bercerita
Tersimpan kisah di rumah singgah
Hati terpaut pertama mengenal cinta

Menatap laut di sore hari
Melihat tarian kapal nelayan
 Dirimu kini telah pergi
Kenanganmu masih kusimpan

Ujungbatu-Riau, 04 Desember 2016


GARUDAKU MENANGIS 

Kita baru tersadar saat ujian berat menerpa
Kita baru mengerti arti luka mendera
Kita baru memahami arti syukur sesungguhnya
Kita baru mengetahui hakikat kebersamaan

Kita seperti tangan bukan seperti mata
Kita saling mengingatkan bukan menghujat
Kita saling berpegang tangan bukan mendorong ke jurang
Kita saling menjaga bukan meluka

Langit masih belum berat selimut mendung
Hujan belum tertumpah curah mengguyur bumi
Badai belum datang memporak-porandakan negeri
Kita perbaiki wajah silaturahmi

Lambang negara masih burung garuda
Pancasila melekat erat di dadanya
 Bhinneka tunggal ika tertulis di pita dalam cengkeramannya
Falsafah tertinggal kesedihan ibu pertiwi menyapa

Patriotisme kembali pahami negeri bukan mencaci bangsa sendiri
Nasionalisme makna sejati bukan menghancurkan negeri
Dwi warna maknai kibarannya nan suci bukan hanya sekadar hiasan di angkasa
Kekayaan alam Indonesia untuk dinikmati semua rakyat bukan hanya konglomerat

Ujungbatu-Riau, 05 Desember 2016


ULASAN ANGKUH DI BUMI RUSUH

Aku dengan keangkuhanku
Menatap langit aksaraku
Menikam lentik larikku.
Menghunus tajam belati sajakku

Semantikku bermakna sumbang
Retorikaku menafsir bimbang
Naratifku berdiri limbung
Imajinasi pun berselubung

Tanyaku tiada bertekanan
Seruan pun tiada berkawan
Penghentian jeda pun enggan
Sutradara drama pun berlawan

Goresanku setipis kertas
Ulasanku secuil kapas
Celotehanku sebabak pantas
 Kisahku tiada tuntas

Ujungbatu-Riau, 05122016


PESAN DI SECARIK KERTAS

Secarik bisik menelisik
Sayup ribut semakin berisik
 Laku menyeruak hati mengusik
 Keraguan jiwa bersisik

Kepas langgam terbenam
Langit menghitam kian kelam
Rintihan atma tenggelam
Layu larikku terpuruk dalam

Kertas putih telah ternoda
Titik percaya terbakar jelaga
Janji manis mencair raga
Jiwa terpijak rasa melata

Jelantah mengusung aroma busuk
Tikaman kata perih menusuk
Bandingan rias wajah benamkan susuk
Hakikat jiwa terkikis rasa terkutuk

Ujungbatu, 05122016

Tentang Penulis: Suyatri, S.S. Lahir di Padang Siminyak, 24 Agustus 1979. Aktivitas selain mengajar juga menulis puisi dan telah terbit di beberapa media dan antologi puisi bersama. Tinggal di Ujungbatu Kabupaten Rokan Hulu Riau.
Pos. el suyatri24@gmail.com
FB. Suyatri.yatri@gmail/ Suyatri Yatri
WA 081268147597


Tidak ada komentar