HEADLINE

Puisi Karya Pahlipi Putra


PUISI PUISI KARYA PAHLIPI PUTRA



PENYESALAN


Malam hitam tak berpandang
pelataran bumi menagisi langit kosong!

Ketika pesan kebuntuan terselip dicelah bait suci.
Herodes menangis, Shekhinah berdiam.
Tembok mati, berkali.
Penyesalan kau datang lagi!




MALAM 30


Gulita sunyi di sudut halaman
riuh bayang - bayang dilarap api
api padam meninggalkan puing
datang hujan ku hanyut juga.

Buruklah ranting dipancung pagi
masih tertanam tunggul membatu.
Kata sepatah tiada mengajak pungguk menari
sebab rembulan masih terkatup.




DENGKI


Mentari masih berpacu hingga kini
mengalir kehulu, pecah di hilir !
Atau purnama bisu menutup mata
tentang dengki burung bangkai memecah cerita.

Catatan mentari retak lagi !
Sebab jalan bersimpang di malam rabun
yang melahirkan dengki bani - bani pintar
ketika berpegang pada akar menancap dibalik lindap.




MALAM BATU


Malam itu semua membatu,
pohonan kaku, menggerutu,
tiada detak suara,
angin entah kemana?
Semua diam !

Hanya sisa hujan di pucuk dedaun
memantulkan cahaya rembulan.

Ah
"Kukira bumi telah mati menjadi batu ".




MIANG BAMBU


Derai bambu tertiup. Melayang, beterbang.
Mengusik miang pohon jiwa
ruas - ruas ngilu mengikis denging,
Juga sembilu yang membunuh pori - pori hidup.
Tetapi aku adalah binatang berduri !




DARAH SILSILAH


Bau hanyir darah masih pekat
dari silsilah yang bertumpah
sebab akal telah membunuh keyakinan
ide yang menjadi alasan ego
mengundang teratain burung bangkai.

Sedang ia lelaki penyabar
dari bangsa smith
telah melahirkan samawi
yang berhembus dari langit

Dan kau !
Adalah serabutan akar bambu
yang meninggalkan rumpunnya
kemudian menjalar,
hinggap pada reranting,
menjadi benalu membunuh. Tumbuh!
Hingga rumpun - rumpun hidup membenci
lalu ghetto menjadi hakim atasmu.

Lenyap, senyap.
Menjadi sepuluh suku yang hilang
dari dua belas jentik genetik.
Tak kunjung jua nafas terputus,
serupa cacing pita membentuk siklus menjadi sistiserkosis.

Kembali hidup berdiaspora
pada darat dan langit.
Kemudian turun menjadi kuda bersayap
atau mungkin ya'juj ma'juj
mengeringkan sungai - sungai dan danau.


Lampung 30 Oktober 2016




Tentang Penulis :
Pahlipi Putra adalah seorang pencinta sastra terutama puisi. Pemuda ini mulai mengasah diri pada dunia kepenulisan sejak ia masih duduk dibangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) yaitu pada tahun 2004 hinga saat ini. Pemuda  ini sengat berharap kelak ia dapat menjadi seorang penyair terkemuka dan hingga saat ini beberapa karya nya pernah diterbitkan pada sejumlah media harian dan online. Pahlipi Putra atau akrab disapa Ifan ini adalah seorang humoris yang saat ini bekerja sebagai staf administrasi di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) LIMAU KUNCI, Kabupaten Lampung Barat.




Dari Redaksi:
Kami memberikan ruang kepada siapapun untuk berkarya. Bagi kami, kesusastraan nasional itu sesungguhnya adalah sebuah keberagaman; mulai dari sastra kaum pemula, sastra kaum tepi, hingga sastra kaum yg telah memiliki label nasional alangkah indahnya bila kita sepakat untuk dilihat secara bersama sama dan miliki tempat serta ruang yang sama pula untuk dihargai sebagai bagian dari corak warna dalam keberagaman. Sebab kita semua memiliki hak untuk hidup serta menemukan bentuk. Silahkan kirim karya anda ke email: riduanhamsyah@gmail.com atau inbox akun fb Riduan Hamsyah.




Tidak ada komentar