HEADLINE

Senja di Pulau Pisang

Pesisir Utara, WL - 19 Juli 2011

Pesona Pulau Pisang (Banana Island), yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Pesisir Utara Kabupaten Lampung Barat (Lambar), tak terbantahkan. Saat-saat menyaksikan matahari kembali ke peraduannya, sunset, membentang siluet menyajikan pemandangan terindah yang menakjubkan seolah menyapa pengunjungnya dari kejauhan dengan penuh keramahan.

Terdapat enam pekon di pulau yang diproyeksikan menjadi salah satu daerah tujuan (DTW) dunia itu karena potensi blue marlyn (tuhuk) dan lobsternya itu. Keenam pekon tersebut, masing-masing Bandardalam, Lok, Sukamarga, Labuhan, Sukadana, dan Pasar yang penduduknya paling ramai.

Berbicara tentang Pulau Pisang, tentu banyak cerita yeng melengkapinya. Mulai dari rentetan sejarah kekuasaan Pangeran Siagul-Agul yang berkedudukan di Waysindi, hingga tanaman cengkihnya yang sempat mendunia di sekitar penghujung dekade 70-an.

Semua itu masih ada yang bisa disaksikan hingga saat ini meski harus diakui tak sedikit yang punah. Termasuk makam beberapa orang suci juga ada di sana. Nama besar Pulau Pisang bukan hanya dikenal baru-baru ini, tapi sejak jaman penjajahan karena pulau tersebut potensial akan bunga rempah cengkih dan kelapa.

Kini, pulau tersebut tak semasyhur namanya kala itu. Penduduknya sudah banyak yang merapat ke daratan dan mencari sumber penghidupan di sana. Pulau Pisang menjadi sebuah nama besar bak mercusuar, dimana di kalangan masyarakat sekitar hanya biasa-biasa saja, namun di luar cukup dikenal.

Bekas kejayaan masa lalu itu, kini masih bisa disaksikan kalau berkesempatan menginjakkan kaki di sana. Rumah-rumah permanen berukuran sebagian besar tak berpenghuni ditinggal pemiliknya merantau atau hanya sesekali saja berada di tempat setelah berusaha di daratan.

Kini, nasib pulau itu tak lebih sebagi tempat beristirahat atau sekadar tempat melepas kenangan kampung halaman bagi beberapa penduduknya yang suskes merantau di luar. Sekadar diketahui, tak sedikit pensuduk atau keturunan warga di pulau ini yang sukses merantau atau setidaknya taraf perekonomiannya lebih tinggi dibanding saat masih di pulau itu.

“Sebagai warga Pulau Pisang, saya berharap pemerintah menaruh perhatian terhadap pulau ini. Rencana menjadikannya salah satu DTW tentu sebuah pemikiran yang positif, dismabut baik, dan harus didukung,” ujar Zoni Saputra, warga setempat, Senin (18/7). (aga)

Tidak ada komentar