HEADLINE

Cerpen Riduan Hamsyah "ANGGUNAN BANK"


Cerpen Riduan Hamsyah
ANGGUNAN BANK

Di sudut meja warna cokelat tua, setumpuk map seperti memanggilnya. Tetapi entah mengapa tiap kali hendak meraba lipatan-lipatan berkas tersebut, tangannya terasa begitu berat. Seperti mengangkat sekeranjang beban saja. Namun, tak berselang waktu, daun pintu bergerak tanpa di ketuk, seseorang masuk.

Seorang wanita rupanya. Masih muda. Cantik pula. Tetapi dari penampilannya, jelas memperlihatkan bila ia telah berumah tangga.

“Silahkan duduk, ibu!’
Perempuan itu senyum sedikit. Menggeser letak kursi. Dan, duduk, di hadapan mejanya.

“Terimakasih, pak. Maaf pagi pagi sudah mengganggu.”

“Tak apa. Tak ada yang merasa terganggu di sini. Silahkan, ibu, ada yang bisa saya bantu!”
Diam sejenak. Agak malu malu. Tak banyak basa basi, ia pun segera berkekata,

“Minggu lalu saya telah mengirim berkas ke ruangan ini, pak. Tapi waktu itu kebetulan bapak lagi istirahat, lalu saya taruh berkas persyaratan tersebut di meja ini.”

Secara bersamaan semua tatapan bergerak ke sudut meja, tempat setumpuk map yang sejak tadi enggan untuk disentuhnya.

“Berkas ibu yang mana?”
Wanita itu membolak balik setumpuk berkas, kemudian dengan raut muka pasti, ia memilih satu diantaranya,

“Yang ini berkas saya, pak.”

Sang operator gaji mengamati kelengkapan persyaratan di dalamnya. Kemudian ujung jari telunjuknya bergerak gerak di atas touchpad. Open close beberapa file, hinggap di sebuah system database semua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkungan instansi besar tersebut.

“Ibu Karoline?”

“Iya, pak. Saya Karoline.”

“Ibu bertugas di UPT Karang Pelangi?”

“Betul sekali, pak”

Sang Operator menatap wanita tersebut. Meneliti penampilannya dengan seksama, seperti hendak menemukan sesuatu lebih jauh di kedalaman pikiran wanita itu. Pegawai yang berpenampilan necis serupa artis. Jidatnya mengkilat, sedikit kemerahan hingga ke dagu meningalkan jejak bedak pemutih yang dipoleskan sepanjang tahun. Alisnya diukir melengkung tanduk kerbau terbalik berkolaborasi dengan pagar gigi menyerupai pagar kantor bupati sehingga bila bicara sedikit agak cadel. Tas harga mahal terselib di bawah ketiaknya, menyelempang ke bahu, tangan kirinya menggenggam sebuah kunci mobil: di pastikan masih baru pula.

Tak ada yang aneh dengan wanita ini. Dari biodata dan profilnya yang tercantum dalam database kepegawaian, diketahui suaminya pun berprofesi sama seperti dirinya ‘Aparatur Sipil Negara’. Jelas ia dari keluarga yang serba berkecukupan serta mapan. Tetapi kenapa, sejak pertama datang wajah perempuan di depan mejanya ini begitu memelas, bahkan nampak tertekan, begitu rumitkah masalah yang sedang menimpanya.

“Ibu Karoline, kalau boleh saya tau, untuk keperluan apa uang sebanyak ini?
Wanita itu diam. Tidak segera menjawab.

“Emm, anu, pak..”
Agak gagap.

“Maaf, ibu, bila saya sedikit masuk ke ranah pribadi ibu.”

“Eeemmm, ya, ya! Tak apa, pak.”
Seperti tengah mencari cari alasan.

“Saya, berniat membeli sebidang tanah di kampung saya,”

“Oh, begitu, bagus itu. Berarti ibu seorang yang senang berinvestasi. Apakah tanah tersebut sebuah lahan pertanian, ibu? Wah, luar biasa sekali, tentu sebuah investasi jangka panjang yang sangat menjanjanjikan. Apalagi zaman sekarang harga tanah terus naik dengan pantastis, sangat menguntungkan bila kita membeli sebidang tanah lalu menjualnya dalam beberapa tahun kemudian.”

“Iya, pak. Tetapi sebenarnya tidak seperti itu. Tanah tersebut adalah warisan dari orang tua suami saya,”

“Lah, lalu seperti apa, ibu Karoline?’

“Sebelum meninggal, orang tua suami saya mewariskan sebidang tanah kepada kami. Lalu tanpa sepengetahuan suami saya yang sibuk dengan kerja serta bisnis-bisnis sampingannya, sertifikat tanah tersebut saya gadaikan ke salah satu bank.”

“Hah, tanpa sepengetahuan suami, ibu? Apakah bisa?”

“Ya, sebelumnya saya telah merayu suami agar membalik nama sertifikat tersebut, atas nama saya.”

“Tetapi bukankah, saat akad serta pencairan anggunan harus didampingi suami?”

“Ah, gampang itu, pak. Tinggal buat surat pernyataan suami sedang sakit dan uang tersebut justru untuk biaya pengobatannya. Tetapi, ya, tentu ada bantuan pihak pihak tertentu juga, pak.”

“Saya sudah menangkap masalah ibu. Saya juga paham apa yang membuat ibu cukup tertekan saat ini. Pasti karena cicilan ibu tidak berjalan dengan baik. Iya, kan?”
Wanita itu menunduk.

“Dan pasti pula, pihak pemberi pinjaman telah mengirim surat peringatan berkali kali, akan menyita tanah tersebut karena telah melewati masa jatuh tempo. Jika ini terjadi tentu sebuah prahara, suami ibu pasti akan mengetahui skenario yang telah dijalankan selama ini.”

“Bantulah saya, pak. Saya dalam kesulitan saat ini.”

“Tetapi, ibu Karoline, memperhatikan privasi dan data keuangan ibu dalam dokumen saya sepertinya ibu belum bisa memperpanjang pinjaman dengan anggunan SK pegawai yang ibu punya sebab sebelumnya ibu pernah melakukan akad peminjaman. Belum lama, 5 bulan yang lalu. Dan, dari data saya ini tercantum, ibu telah menganggunkan SK untuk kurun waktu angsuran selama 15 tahun sehingga belum bisa memperpanjang lagi pinjaman dalam waktu dekat ini mengingat peminjaman sebelumnya yang ibu lakukan angkanya cukup tinggi, bahkan dengan nominal yang telah dimaksimalkan.”

“Matilah saya, pak.” 

“Sekali lagi, mohon maaf, ibu Karoline.”

“Apakah tidak bisa dihitung hitung lagi, pak. Dengan bantuan bapak sebagai operator gaji saya, pihak bank bisa dikondisikan. Tolong saya, pak. Saya cuma punya waktu 3 hari, bila tak ditebus tanah tersebut akan segera dieksekusi.”

“Ibu, coba pikirkan lagi solusi yang lebih realistis dan bisa membantu ibu keluar dari lilitan masalah keuangan ini. Ingatlah, ibu sudah terjebak pinjaman bank, selanjutnya ibu akan melakukan pengajuan pinjaman lagi untuk melunasi hutang yang serupa. Ibu tidak akan pernah terlepas dari masalah ini, justru akan semakin terjebak lebih jauh.”

“Tapi saya tidak punya solusi lain, selain memperpanjang pinjaman..!?”

“Tidak bisa ibu. Sebab pinjaman ibu sebelumnya masih sangat besar.”

“Tolong, pak”

“Saya sarankan, agar ibu berterus terang pada suami ibu, bicarakan hal ini secara baik baik. Saya yakin akan ada solusinya. Sebab akan semakin sulit bila masalah rumit ini ditutupi dari keluarga.”

“Tapi, pak?”

“Sudahlah, ibu pulang dulu, carilah solusinya di rumah. Selanjutnya, saya berharap ibu segera bertaubat agar tak termakan candu menganggunkan berkas pegawai ke bank.”

Raut muka operator itu sedikit berubah, ia lebih menekankan ketegasan pada kata-katanya.

Di luar ruangan ada beberapa bunyi tumit sepatu hilir mudik bahkan ada yang mendekat. Staf yang bertugas sebagai operator gaji pegawai tersebut mengalihkan pandangan ke jendela, menerabas ke luar. Beberapa pasang mata menatapnya dari seberang kaca, dan tatapan itu hampir serupa dengan wanita di depannya ini. Menunggu antrian untuk  masuk. Mengemukakan keinginan (yang tentunya) akan sama pula dengan tamu yang pertama mendorong daun pintu di hari pertama masuk kerja setelah cuti lebaran tahun ini.

Di satu sisi, ia, dituntut memberi tugas pelayanan yang sebaik baiknya. Mestilah memberikan pula sebuah kepuasan tetapi ada sebuah keraguan besar mengejarnya setiap hari bahkan sepanjang tahun-tahun belakangan ini sejak bertugas sebagai pengelola perbendaharaan yang mengatur proses serta management gaji sekitar seribu pegawai di instansinya. Ada halauan yang terasa berat merenangi hatinya ketika mesti memperifikasi sekaligus menandatangani pinjaman pegawai yang berduyun duyun datang setiap minggu. Bahkan setiap hari. Ada penolakan begitu deras dalam jiwanya untuk tidak terlibat dalam proses hutang piutang dengan pihak lembaga keuangan konvensional sebab permainan suku bunga (yang apapun propagandanya) pasti akan tetap membelit nasabah. Sungguh miris, karena hampir 90% teman temannya terlilit hutang. Keguncangan ekonomi rumah tangga jangka panjang yang terus hilir mudik di hadapannya. Orang orang yang mengeluh dan terhisap dampak begitu nyata dari perniagaan riba. Resah. Panik. Dan, terdesak. Tetapi anehnya, alat anggunan adalah senjata paling ampuh untuk mengajukan pinjaman bagaikan sebuah magnit yang terus saja menjadi candu. Terasa manis. Memikat. Sementara para pelaku ekonomi kapitalis menari nari kegirangan.

Di sisi laian, ia, cuma staf yang harus menjalankan tugas secara profesional. Sebagai bawahan tak memiliki kewenangan untuk menolak. Sebab ia akan disalahkan, jika menolak, karena telah dianggap menghambat kebutuhan orang lain.

Sungguh menyakitkan hidup dalam sebuah dilema perasaan. Separuh dirinya takut kepada tuhan sebab apapun alasannya, semua pinjam-meminjam yang menggunakan akad ‘bunga’ adalah HARAM hukumnya, separuh lain dirinya; jari jarinya yang menuntun mata bulpoin bergerak juga membubuhkan sepucuk tanda tangan. Lalu, ‘Tok’ cairlah sejumlah uang pinjaman. Sungguh, dunia ini telah merupa arena yang begitu sulit, sulit untuk menjadi baik. Meski seperangkat pikiran menolak untuk menuruti perintah hati.

*****

Menjelang akhir pekan, daun pintu bergerak setelah sebelumnya terdengar suara ketukan dan salam, seorang lelaki tinggi besar masuk. Kepalanya plontos bagian atas, sedikit berambut di bagian bawah, alias botak gaya professor.

“Selamat pagi, pak.”
Mengulurkan tangan, kemudian duduk.

“Ada yang bisa saya bantu, pak. Silahkan.”

“Langsung aja, pak. Saya mau menggadaikan es-ka saya. Lagi butuh uang, nih, pak!”

“Sudah diisi blanko dan persyaratannya?”

“Oh, sudah, pak. Saya kebetulan baru dari kantor bank. Berkonsultasi dan mengisi blanko yang diberikan oleh pihak marketing. Ini tinggal bapak verifikasi, dan tanda tangan persetujuan.”

“Oks. Tunggu sebentar. Saya lihat database dulu.”
Hening sejenak.

“Bapak, Jaro!”

“Iya, pak, saya Jaro Kidul. Bertugas sebagai Kepala UPT di gudang alat kontrasepsi.”

“Di database saya, bapak tidak memiliki pinjaman ke bank manapun sebelumnya. Gaji bapak masih utuh.”

“Betul, saya baru pertama kali mengajukan pinjaman.”
Operator tersebut meraih bulpoin, sebelum tanda tangan persetujuan dibubuhkan, matanya bergerak ke kolom atas sebelah kanan blanko tersebut. Berhenti di situ. Dan meletakkan kembali bulpoinnnya.

“Tiga Ratus Juta. Besar sekali, pak?”

“Saya sedang butuh, pak.”

“Tapi angka ini sangat besar, gaji bapak akan dipotong 80% lebih setiap bulannya.”

“Siap, pak. Tak apa. Saya punya penghasilan lain di luar gaji bulanan. Dan, saya juga akan minta rekomendasi persetujuan dari kepala dinas. Tinggal menunggu tanda tangan dari bapak saja.”

Sebagai seorang operator ia tak dapat berbuat apa apa. Apalagi pegawai di depannya ini punya jabatan serta posisi yang lebih baik dari dirinya. Maka, “Cret” tanda tangan pun dibubuhkan.

*****

Dering ponsel menggetarkan saku celana bagian samping, sehingga isi celana bagian depan juga ikut terguncang. Buru buru ia angkat itu ponsel.  Suara merdu masuk. Seorang wanita tentunya.

“Selamat siang, Bapak Palpel, saya Mariyam Sambogi. Dari bagian perkreditan Bank Sentral Biler (BSB) kota ini.”

“Siang kembali, ibu Mariam. Oks, dengan saya Palpel di sini. Ada yang bisa saya bantu?”

“Oh, terimakasih. Jadi begini, pak. Tiga hari lalu kami menerima pengajuan pinjaman dari salah satu pegawai yang bekerja di lingkungan kantor bapak.”

“Oya, atas nama siapakah?”

“Atas nama bapak Jaro Kidul.”

“Ya, ya. Benar itu adalah pegawai yang bekerja di bawah naungan kantor kami. Jaro Kidul Kepala UPT Gudang Alat Kontrasepsi itu, kan?”

“Betul sekali, Suaminya ibu Karoline..”

“Hah…!”
Jeda sejenak.

“Ada apa bapak Palpel? Ada yang perlu diklarifkasi?”

“Oh, tidak, tidak apa apa. Ya, silahkan, diproses pinjamannya.”

“Oke, bapak Palpel. Terimakasih telah memberi konfirmasinya. Selamat siang, dan semoga bapak bahagia..”

“Terimakasih kembali, ibu Mariam Sambogi.”

Termangu di sandaran kursinya. Memandang kosong ke dinding. Tangan kanannya masih menggenggam ponsel sementara tangan kiri mengurut urut kening. Sejurus kemudian di simpannya ponsel tersebut ke dalam laci. Melirik jam tangan, waktu dzuhur hampir habis, ia bergegas ke mushola.

Jatake-Tangerang, 8 Juli 2017

Tentang Penulis:
Riduan Hamsyah menulis Cerpen, puisi, artikel. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah media cetak dan online. Serta telah dibukukan dalam sejumlah antologi bersama dan tunggal. Terbaru, karyanya terdapat dalam buku NEGERI AWAN (Dari Negeri Poci 7), IJE JELA (Tifa Nusantara 3), SAIL CIMANUK 2016, EMBUN PAGI LERENG PESAGI, dll. 

Tidak ada komentar