HEADLINE

Cerpen Kakanda Redi "LURAH NURHADI"



DARI REDAKSI
Kirimkan Cerpenmu dilengkapi dengan biodata diri dan foto bebas dalam satu file ke e-mail: riduanhamsyah@gmail.com. Redaksi akan memberi konfirmasi pd penulis yg karyanya dimuat. Bila dalam 1 bulan  Cerpenmu tidak dimuat maka dinyatakan belum layak. (Mohon maaf sebelumnya laman ini belum dapat memberikan honorium). Salam segenab redaksi.


Cerpen Kakanda Redi
LURAH NURHADI


Desas-desus soal perselingkuhan antara Narti dan Bowo sudah santer terdengar. Dalam sekejap mata, mendadak seluruh warga dusun sudah punya cerita dengan alur sendiri-sendiri, versinya sendiri-sendiri. Ada yang bilang kalau Bowo itu pria yang kesepian dan perlu teman untuk menemani setiap malam, teman yang bisa dikeloni. Ada yang bilang kalau Narti itu adalah perempuan gampangan, perempuan panggilan. Ada yang bilang kalau Narti itu cuma ngeroki saja, berhubung Bowo masuk angin. Ada yang bilang kalau Narti dan Bowo memang sudah lama sering begituan, ndak di ladang, ndak di gudang, ndak di rumah. Intinya, saat ini sedang terjadi sesuatu yang serius, yang melibatkan Bowo dan Narti. 
“Padahal istri Kang Bowo itu cantiknya minta ampun. Kinyis-kinyis. Ndak usah goyang, duduk saja iler-ku bisa netes,” kata Samuji, suatu petang di pos ronda.
Malik sibuk ngunyah pisang goreng ketika hatinya tergelitik untuk ikut mengomentari ujaran sahabatnya itu, “Lha wong namanya juga lagi kaceren. Istri lurah sendiri juga dihajar. Sudah ndak punya pikiran memang Kang Bowo itu. Yu Narti kok ya diadu sama Yu Kasih. Ya jelas jauh. Iyo po ra?”
“Heh, memangnya bener kalau Kang Bowo itu gendaan sama Yu Narti? Ngomong mbok ya dipikir dulu. Jangan asal njeplak. Kalau salah, cangkem-mu itu bisa dikamplengi, ditempeleng orang.”
Malik melotot ke Sukir yang sibuk mengayun-ayunkan pemukul kentongan, “Kurang bukti apalagi coba? Yu Narti sering bertandang ke rumah Kang Bowo pas Yu Kasih ndak di rumah. Malam-malam pula. Ya ndak umum to ada perempuan bertandang ke rumah laki-laki jam sebelas malam. Apalagi kalau bukan mau begituan?”
“Halah, kayak kamu pernah lihat saja!”
“Memang belum pernah. Tapi kata Iyut, dia pernah lihat Yu Narti keluar dari pintu belakang rumah Kang Bowo. Matanya celingukan, mengendap-endap, seperti takut kepergok orang.”
Sukir memukul kentongan dua kali, “Itu kata Iyut to? Bukan kamu sendiri to yang melihat?”
Malik menggeleng. 
“Makanya, lihat sendiri, baru ngomong!” sergah Sukir tandas.
“Begini saja,” Samuji menengahi, “Mulai malam ini, kita ronda terus. Kita awasi rumah Kang Bowo. Kita cari bukti. Bagaimana?”
“Setuju!” Malik terlihat begitu semangat, “Kamu, Kir? Ikut ronda apa ndak? Nanti kalau aku dapat bukti, terus kamu sendiri ndak lihat, kamu banyak ngomong lagi. Males aku.”
“Iya, aku ikut.” Sahut Sukir singkat.

***

Lurah Nurhadi adalah seorang laki-laki yang perawakannya tegap. Pembawaannya kalem. Bicaranya bersahaja dan bisa menenangkan warga. Setiap apa yang disampaikan oleh beliau, selalu saja dituruti oleh warga, dikerjakan dengan sebaik-baiknya agar jangan sampai lurah yang mereka sayangi itu kecewa.
Lurah Nurhadi sendiri bukan tidak mendengar desas-desus yang berkembang di desanya. Terlebih ini manyangkut istrinya sendiri. Banyak yang bergunjing kalau istrinya itu main serong sama warganya yang bernama Bowo. Ditelaahnya, Bowo memang laki-laki yang lumayan tampan. Hartanya juga ada. Tidak susah bagi Bowo untuk mendapatkan hati dan tubuh perempuan yang dia inginkan di desa ini. Cukup mengibaskan beberapa lembar seratus ribuan saja, perempuan-perempuan melarat di dusun ini sudah klepek-klepek, klenger tak berdaya.
Yang Lurah Nurhadi sendiri masih belum mengerti, apakah istrinya tergolong ke dalam jenis perempuan melarat itu? Rasa-rasanya, dia tak pernah kurang dalam memberikan nafkan lahir dan nafkah batin kepada Narti. Sungguh terlalu kalau sampai Narti tega berbuat serong dengan Bowo yang jelas-jelas sudah beristri, cantik pula.
Lurah Nurhadi harus mengakui kalau Kasih, istrinya Bowo, memang sangat cantik. Tubuhnya sintal. Kulitnya langsat menguning, bercahaya jika tertimpa sinar matahari. Rambutnya panjang tergerai sepunggung. Lurus dan hitam mengkilat. Senyumnya bisa bikin mabuk laki-laki. Betisnya gempal berisi, mulus dan putih pula. Kalau sedang berjalan kaki, pinggulnya bisa terlempar kesana-kemari. Sungguh jenis perempuan yang mengundang birahi.
Tengah asyik Lurah Nurhadi membayangkan lenggak-lenggok sintal tubuh Kasih, pintu ruangannya diketuk orang. Beberapa jenak kemudian, Pak Tukiran, sekretaris desa, masuk dan mengangguk dengan hormat, “Ada warga yang ingin bertemu sama Pak Lurah.”
“Siapa?”
“Anu, Pak Lurah, Samuji sama Malik. Katanya ada yang mau disampaikan ke Pak Lurah.”
Lurah Nurhadi membenarkan letak peci hitamnya, “Oh, suruh masuk saja, Pak Ran.”
Pak Tukiran mengangguk sekali lagi, “Baik, Pak Lurah.”
Lurah Nurhadi mengumpat. Hampir saja dia menelanjangi Kasih di dalam khayalannya jika tidak diganggu oleh Pak Tukiran barusan. Sekali lagi Lurah Nurhadi mengumpat.
“Selamat pagi, Pak Lurah,”
Lurah Nurhadi mendongak. Di hadapannya sudah berdiri dua pemuda dusun yang dikenal paling keras menindak warga yang kedapatan berbuat salah seperti mencuri, membobol saluran irigasi, dan semacamnya.
Lurah Nurhadi menebar senyum, “Silahkan duduk, Samuji dan Malik. Ada berita apa? Kok tumben pagi-pagi sudah menghadap?”
“Terima kasih, Pak Lurah,” sahut Malik, “Begini Pak Lurah, mungkin Bapak sendiri sudah bisa menduga maksud kedatangan kami ke ruangan Bapak ini. Itu loh, Pak, menyangkut gunjang-ganjing yang melanda kenyamanan warga, yang melibatkan Kang Bowo sama… nggg… samaaaa…”
“Sama istri saya? Sama Narti?”
Malik jadi salah tingkah, “Aduh, mohon maaf Pak Lurah. Bukan maksud saya ingin berlaku kurang sopan terhadap keluarga Pak Lurah, tapi ini… aduuuhhh… nganu Pak Lurah, gunjang-ganjing ini terus terang sudah bikin ketentraman warga jadi terganggu. Sekali lagi mohon maaf, Pak Lurah.”
Lurah Nurhadi menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Napasnya tampak sangat berat, “Apa kalian sudah punya bukti? Kalau kalian hanya sekedar ngomong tapi tidak punya bukti, itu sama saja kalian mencemarkan nama baik keluarga saya.” Seperti biasa, lurah yang kalem itu berbicara dengan tidak melibatkan emosi sedikitpun. Kalimat-kalimatnya pelan tapi tegas.
“Nah, itu dia Pak Lurah. Maksud kedatangan saya dan Malik ke sini terkait soal itu tadi, soal bukti. Jika suatu saat kami memergoki istri Pak Lurah keluar dari rumah Kang Bowo, padahal itu bukanlah waktu yang wajar untuk bertamu, kami mohon izin untuk menangkap istri Pak Lurah.” Sahut Samuji cepat dan mantap. 
Lurah Nurhadi menarik napas panjang lagi. Keadaan sudah memojokkannya. Mengiyakan berarti dia harus siap kehilangan wibawa dan nama baik jika suatu saat nanti istrinya benar-benar tertangkap. Sementara jika dia mengatakan ‘jangan’ saat ini, berarti sebagai lurah dia sudah mengajarkan warganya untuk menyembunyikan kejahatan dan tidak taat terhadap hukum. Bukankah semua warga negara itu sama di mata hukum dan harus taat terhadap hukum?
“Bagaimana Pak Lurah?”
Lurah Nurhadi berdehem dua kali, “Baiklah. Jika suatu hari kalian berhasil menangkap istri saya sedang main serong, saya serahkan ke kalian dan warga. Hukumlah sesuai dengan adat dan hukum yang berlaku di desa kita ini.”
Malik dan Samuji tersenyum senang, “Terima kasih, Pak Lurah. Kalau begitu kami mohon diri dulu. Selamat pagi,” keduanya undur diri.
Tinggal Lurah Nurhadi yang masih termenung. Wajahnya mendadak jadi muram. Seperti ada beban berat yang sedang dia panggul saat ini.

***

Narti berjalan mengendap-endap. Matanya jelalatan kesana-kemari, seperti sedang dalam ketakutan yang sangat. Langkahnya kecil-kecil, sesekali tampak melambat, sesekali juga tampak sangat cepat dan cekatan. Kakinya begitu terampil dalam memilih jalan, seolah telapak kakinya punya mata yang tajam dan jeli. Tak sekalipun dia menginjak lobang atau semak berduri, meskipun jalannya sesekali terlihat sangat cepat.
Ditengah ketakutan itu, sesekali senyum mengembang di bibir Narti. Betapa tidak. Di genggaman tangannya kini bergumpal beberapa lembar uang seratus ribuan. Sudah terbayang di otaknya untuk apa gerangan uang hasil kerja kerasnya itu. Pakaian bagus dan seperangkat alat kecantikan ada di daftar paling atas. Sekali lagi senyumnya mengembang. Telah ia bayangkan bagaimana nantinya wajahnya yang sering pucat dan mengelupas itu dia poles sendiri dengan bedak. Wangi dari semprotan parfum mahal segera menyebar di dalam pikiran dan angan-angan.
Tengah pikirannya sibuk mendaftar barang-barang yang akan dibeli, Narti tidak sadar ketika dua orang dengan tiba-tiba sudah menghadangnya, tak begitu jauh dari semak-semak di sebelah rumah Kang Bowo. Narti tergeragap. Matanya mendelik. Senyum di bibirnya seketika lenyap. Sinar lampu senter yang disorotkan persis ke wajahnya membuat Narti merentangkan telapak tangan, berusaha menutupi bola matanya dari sengat cahaya yang menikam. 
“Dari mana, Bu Lurah? Kok malam-malam begini Bu Lurah kelayapan?”
Narti menatap si penanya dengan kesal. Cahaya senter sudah tidak lagi menusuk bola matanya, “Ada kepentingan apa kalian nanya-nanya seperti barusan? Kalian pura-pura lupa atau memang tidak tahu siapa saya?”
“Justru saya sangat paham siapa gerangan orang yang ada di hadapan saya sekarang ini, makanya saya dan Malik bertindak seperti ini.” Jawab Samuji dengan lantang, “Bu Lurah belum menjawab pertanyaan saya. Bu Lurah dari mana?”
Narti tak bisa mengelak lagi. Pikirannya mendadak kusut. Pakaian bagus dan alat-alat kecantikan tak lagi menari di kepalanya, “Saya dari rumah Kang Bowo. Kenapa rupanya?”
“Oh, kenapa rupanya?” Samuji bertanya balik dengan setengah membentak, “Bu Lurah sadar sekarang ini sudah jam berapa? Sekarang sudah jam setengah satu dini hari, Bu Lurah. Tidak pantas rasanya bertamu pada jam-jam seperti sekarang!”
“Jadi mau kalian apa? Mau menangkap saya?” Narti membuka genggaman tangannya. Dicabutnya dua lembar uang seratus ribuan, diacungkannya uang itu ke hadapan Samuji dan Malik. “Ini untuk kalian jika malam ini kalian bisa tutup mulut. Bagaimana?” ucap Narti kemudian setengah berbisik.
“Bu Lurah mau menyogok kami?”
“Apapun namanya, asal kalian bisa tutup mulut.”
Malik saling melempar tatap dengan Samuji. Seumur-umur tinggal di dusun kecil ini, jarang sekali rasanya dia bisa punya uang seratus ribu tunai. Hatinya mulai goyah. “Bagaimana ini?” bisiknya kepada Samuji.
Samuji yang ditanya langsung memelototkan mata, “Bagaimana apanya? Sudah, kita tangkap sekarang. Kamu pukul kentongan, bangunkan warga!” Selesai berkata seperti itu, Samuji langsung meringkus Narti, “Sekarang Bu Lurah ikut saya. Suami Bu Lurah harus tahu kelakuan Ibu yang kurang pantas ini!”
“Tapi…ini…”
Samuji tak sedikitpun goyah. Dengan cekatan diikatnya tangan Narti. Narti sendiri terus saja meracau dan meronta-ronta.
Suara kentongan segera bertalu-talu, memecah sepi dini hari yang dingin. Sebentar kemudian sudah banyak warga yang berkerumun di pos ronda. Semua mengeluarkan pertanyaan yang serupa; ada apa? Maling? Kebakaran?
Samuji menyorotkan cahaya senter ke wajah Narti yang tertunduk, “Lihat ke sini semuanya. Bu Lurah main gila lagi sama Kang Bowo. Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Mari kita arak Bu Lurah ke rumah Pak Lurah Nurhadi!”
Segenap warga mengacungkan obor mereka tinggi-tinggi seraya berteriak serempak, “Ayooo! Kita rajam tukang zinah ini!!!”
“Telanjangi saja!!!”
“Dicambuk saja!!!”
Narti semakin pucat. Uang digenggaman tangannya lepas, terjatuh entah di mana. Tak terpikir lagi pakaian baru. Tak terbayang lagi alat kecantikan. Tak tercium lagi aroma parfum di benaknya. Kini yang menari di pikirannya adalah hukuman apa yang bakal dia terima sebentar lagi. Akan dipenjarakah dia? Benar-benar dirajamkah dia? Atau dicambuk? Oh, betapa untuk kali pertama Narti merasakan tidak enaknya pulang ke rumah sindiri, dalam keadaan seperti ini pula, diarak, digiring, diteriaki macam-macam. Pelacur. Lonte. Tukang zinah.
Sampai di depan rumahnya, Narti semakin tak kuasa mengangkat wajah. Tatapannya lekat menghujam ke tanah. Malah sesekali dia terpejam, tak hendak lagi rasanya membuka mata. Malu yang dia derita malam ini sungguh tak akan pernah sembuh, tak akan pernah terlupakan. Selamanya. Sampai kapan pun.
“Pak Lurah, bangun Pak. Ini saya bawa bukti yang Pak Lurah sebut tempo hari!” teriak Malik dengan lantang. Puluhan warga mengekor di belakang Malik dan Samuji yang menyandera Bu Lurah. Malam ini pelataran rumah Lurah Nurhadi benderang oleh nyala puluhan obor yang dibawa oleh warga.
Pintu rumah Lurah Nurhadi terbuka disusul dengan munculnya sosok berwibawa yang perintahnya selalu dituruti oleh warga. Lurah Nurhadi hanya mengenakan kain sarung dan atasan kaos tanpa kerah. Keringat tampak meleleh di pelipisnya. Matanya terang. Nyata bahwa Lurah Nurhadi memang tidak tidur atau tidak dalam keadaan terbangun dari tidur.
Lurah Nurhadi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapannya lekat menghujam Narti yang tertunduk. Keadaan mendadak berubah menjadi sunyi. Tak ada lagi hiruk-pikuk. Tak ada lagi teriakan-teriakan warga.
“Mana yang laki-lakinya?” ucap Lurah Nurhadi dengan suara sedikit berat, sedang tatapan matanya tak hendak berpindah dari sosok istrinya yang diikat seperti layaknya maling yang tertangkap.
“Berhasil lari, Pak Lurah,” Malik yang menjawab, “Tadi ketika saya hendak memukul kentongan, saya sudah meminta Sukir dan Iyut untuk meringkus laki-lakinya sekalian. Rupanya sudah duluan kabur dia.”
“Tapi bukti ini cukup kan, Pak Lurah? Saya harap Pak Lurah bisa berlaku adil seperti biasanya.” Imbuh Samuji, tegas dan mantap.
Lurah Nurhadi mengangguk dua kali, “Baik, saya serahkan perempuan pesakitan itu kepada kalian. adili seadil-adilnya, sesuai hukum yang biasa kita gunakan saat mengadili warga yang tertangkap saat berbuat kejahatan!”
“Tapi Mas, saya…”
“DIAM!!!” 
Baru saja Narti membuka mulut dan hendak memelas kepada suaminya, berharap dia bisa mendapat sedikit pengampunan, justru murka sang suami yang muncul. Narti tergeragap. Tubuhnya sudah duluan ngilu sebelum benar-benar dicambuk oleh warga.
“Baiklah, sekarang kalian bubar. Bawa perempuan durjana itu dan tahan dia di balai desa.”
“Baik, Pak Lurah.”
Satu demi satu warga meninggalkan pelataran rumah Lurah Nurhadi. Keadaan kembali menjadi gelap. Hanya temaram lampu minyak gantung yang menerangi beranda rumah.
Lurah Nurhadi masuk dan menutup pintu. Agak tergesa dia menuju ke kamar tidur. Perlahan dihempaskannya tubuh tegapnya ke tepi pembaringan. Napasnya terhembus kuat dan panjang.
“Hampir saja,” ujar Lurah Nurhadi pelan. Tubuhnya berbalik, menghadap ke perempuan setengah telanjang yang terlentang di pembaringan. Tubuh sintal perempuan itu segera memacu detak jantung Pak Lurah sedikit lebih kencang. Matanya kian jalang, siap menerkam tubuh kuning langsat di depan.
“Suamiku benar-benar main gila sama istrimu, Mas?” tanya si perempuan dengan mata sedikit disayu-sayukan.
“Ah, sudahlah Dik Kasih, tidak usah dipikirkan. Mari kita lanjutkan permainan yang sempat tertunda barusan,” Lurah Nurhadi membuka kaos dan sarungnya, melempar kedua benda itu ke sembarang arah.
Malam ini, perbuatan busuk terjadi dua kali, terjadi pada malam yang bersamaan, namun dengan nasib yang berlainan.

  

Catatan:
kinyis-kinyis = umpama barang, masih baru buka bungkus, mulus
kaceren = terbit nafsu birahinya
gendaan = selingkuh

  

Kakanda Redi
Bergiat secara aktif di Forum Sastra Kalimantan Barat. Menulis cerita pendek, novel, puisi, dan beberapa cerita anak. 

Tulisan-tulisannya disiarkan di beberapa koran lokal seperti Pontianak Post, Equator, Suara Pemred, dan di beberapa media online seperti www.sayap-imaji.com, www.saibumi.com  dan www.wartalambar.com. 

Saat ini menetap di Mempawah, Kalimantan Barat.



Tidak ada komentar