HEADLINE

Menyemai Bibit Sastra di Lampung Barat

Photo by : Buddy Setiawan

MENYEMAI BIBIT SASTRA DI LAMPUNG BARAT
Oleh: Riduan Hamsyah


Seorang anak muda pernah menelpon, “Bang, saya ingin belajar nulis puisi,”
Saya jawab, “Untuk apa?”

Menurut anak muda itu, seorang guru sekolahnya di salah satu SLTA di Lampung Barat telah mengenalkan kata kata ‘puisi’ kepadanya, sementara ia pribadi belum paham puisi itu apa. Lalu, saya bertanya lagi, “Apakah dirimu ingin menjadi sastrawan?” Anak itu tidak menjawab, tetapi mengalihkan pembicaraan sebelum menutup telepon, saya lupa menanyakan siapa nama serta alamat tinggalnya.

Setengah bulan kemudian, orang yang menelpon tersebut (atau mungkin bisa jadi orang yang berbeda) mengirim pesan melalui WA, begini kalimatnya: Terserah, apakah suatuhari nanti orang akan menyebut saya sastrawan atau hanya menulis pop, atau apalah namanya! Yang jelas saya ingin belajar menulis.

Saya balas, “Saudaraku, menulis puisi itu sulit, sampai saat ini juga saya masih belum paham, bagaimana sebenarnya menulis puisi yang bagus itu. Sebab menurut sejumlah sumber yang saya garis bawahi bila ingin menjadi sastrawan maka bobot bacaan kita juga mesti dipolarisasi pada arah tertentu. Kita mesti membaca semacam Iwan Simatupang, atau Kuntowijoyo, atau Aprizal Malna (meskipun kitasebagai pemula belum tentu suka dan cenderung memaksakan diri untuk memahami pola pikir orang-orang yang rumit dengan kapasitas otak kita yang tentu berbeda daya rekamnya). Sebab terlepas dari itu semua maka orang akan menyebut kita SAMPAH!”
“Betulkah itu?”
“Ya, kurang lebih demikian!”
“Alangkah tidak tolerasinya jalan untuk menjadi peminat puisi itu, Bang? Padahalah sekali lagi, saya baru sebatas peminat. Apakah pola pikir manusia itu mesti di-samaratakan sehingga kita mengabaikan bahwa segala sesuatu seharusnya mesti dimulai pada tahap paling rendah. Asumsi saya adalah, mungkin ini kurang begitu mendidik untuk seorang peminat seperti saya, dan cenderung mengajarkan idiologi anti kemajemukan. Salam santun, Bang! Kalo gitu saya tidak jadi belajar nulis puisi.”
Saya terhenyak. Dan, sangat menyesal telah membalas WA-nya dengan kalimat seperti itu, saya telah mengusir anak muda itu dari dunia yang baru hendak dikenalnya. Padahal kata-kata itu sebenarnya bukan dari saya tetapi dari seorang bijak yang pernah mengajari saya. Saya merasa sangat berdosa karena dalam hitungan singkat saja saya telah menjadi seorang pembunuh yang keji. Hai, buruk benar diri saya ini.

*****

SALAM SANTUN, sedikit kisah di atas cukuplah untuk memulai tulisan ini, sekaligus pula memulai ulasan kita tentang para peminat dunia kesenian masyarakat di bagian paling barat Provinsi Lampung yang berhawa sejuk. Sekali lagi kita sebut ‘para peminat’ yang dalam kurun waktu tahun 2016 ini cukup ramai dan bermunculan dari celah-celah pekon kami yang berlatar belakang gunung serta bukit-bukit diselimuti kabut. Ada geliat sebenarnya di sini. Denyar yang dipantulkan pada bening embun dan sinar matahari pagi menyapa hijaunya dedaun kopi. Ya, sebenarnya aroma yang paling menyengat dari wilayah kami ini adalah secangkir kopi hangat, dikirim dari jutaan hektar perkebunan terhampar dari lembah hingga kepucuk tebing. Konon katanya sebagai penyumbang seperdelapan produk kopi nasional. Sehingga yang terpikirkan oleh semua orang hanyalah bagaimana menghasilkan sekaligus menikmati khas kopi di sini. Mungkin belum pernah terlintas dalam benak, alangkah lebih nikmat bila secangkir kopi itu kaureguk sambil membaca sepucuk saja puisi yang ditulis oleh kaum muda petani.

KEMUDIAN sebuah kabar yang cukup menggembirakan ketika secara tiba-tiba sejumlah anak muda-mudi Lampung Barat menyatakan ingin belajar berpuisi. Mereka menetas dari rahim entah lalu beterbangan seperti anai-anai mencari sinar lampu. Dari pekon-pekon kami yang selama ini penduduknya sibuk mencintai kebun dan ladang-ladang sayuran atau sebagian kecil lainnya merantau ke kota untuk menjadi orang pintar yang mengubah alamat pulangnya secara tiba-tiba muncul sekelompok kecil masyarakat yang suk amembaca puisi. Sungguh ajaib. Bahkan info terakhir yang saya dapat bahwa koloni yang baru tumbuh tersebut kini telah membentuk Komunitas resmi bernama KOMUNITAS SASTRA SILATURAHMI MASYARAKAT LAMPUNG BARAT (KOMSAS SIMALABA) dengan anggota tersebar di sejumlah pekon (desa) dan ada pula yang masih hidup di perantauan. Dalam catatan saya pribadi tidak kurang dari 30 orang dari anggota KOMSAS SIMALABA tersebut telah intens menulis puisi serta berani mempublikasikan karya mereka di www.wartalambar.com. Mereka hadir kejagad kosa kata yang masih sempoyongan dalam bentuk embrio.

Menyikapi ini sebagai tahapan yang begitu awal alangkah lebih bijak bila kita menyembunyikan mereka dari naluri teoritis yang dibincangkan banyak orang karena bila sebingkai seni baru saja hendak tumbuh telah dijerumuskan pada kerangka teoritis, maka bersiaplah kita menyaksikan banyak bangkai calon-calon manusia creative terbunuh dari prosesnya menjadi putik dan idialisme yang sesekali ingin kita sebut fulgar sebab telah menjadi wacana tanpa kepastian. Hidup; kenapa mesti dibuat sedemikian rumit? Sekeda runtuk menghasilkan sesuatu pada titik paling hulu.

Di antara para pengirim puisi ke www.wartalambar.com tersebut adalah: Novri Irawan, Q Alsungkawa, Aan Hidayat, Muhammad Sarjuli, Nanang R, Suyono, Anik Susanti, Yulyani Farida, Titin Ulpianti, Ahmad Rifa’i, M Hidayat, Kamson, Ayu, Diah Pebriani, Fheira, R Tia, Pahlepi, Pheni Jayanti, Vina Yuliana, Buddy Setiawan, Romy S, Dhewi, Ining Rustini, Lasmi, Adien Pahmudin, Rahmat seminung, Ririn Pangestu, Naz Elhadzaq, Anisa Putri, dll. Bahkan di antara nama-nama tersebut ada yang begitu bersemangat menghasilkan puisi hampir tiap hari. Ada juga sebagian yang namanya tidak tersebut masih malu-malu. Tetapi setidaknya kita telah mendapatkan bibit-bibit selain kopi dan sayuran di wilayah ini. Sebuah harapan bisa terus disentuh secara bijak serta santun agar kelak menjadi matang.

Tentu ini sebuah kabar yang paling menggembirakan dari ‘Bumi Pesagi’ saat ini. Bukan Cuma kabar seputar harga kopi yang nanjak tetapi produksinya melorot tahun 2016 ini, atau hamparan lahan tidur yang kemudian disulap oleh tangan-tangan creative menjadi ladang-ladang sayuran. Sekelompok anak muda yang telah mencoba untuk menulis puisi dan mempublikasikannya setiap malam minggu pada event SEMARAK PUISI MALAM MINGGU yang saat ini telah memasuki edisi ke-30. Sekelompok calon “Pemuisi” yang mandiri tanpa harus ngantri atau menunggu keajaiban dimuat oleh koran ibu kota sekedar untuk menampilkan ekspresi diri serta memicu motivasi. Sekali lagi, mengapa hidup mesti dibuat sedemikian rumit? Sebab proses yang terlalu rumit tersebutlah yang justru menjadikan begitu banyak manusia terbunuh; dan, karya tak jadi tumbuh. Tetapi, sudahlah, kita tinggalkan semua perasaan yang sentimentil tersebut. Cukup sekedar mengingatkan saja. Selebihnya mari berkarya sebab akan semakin miskin kita, bila hanya menyentuh bagian pucuk dari sebatang pohon yang sebenarnya rimbun.

Perlu dukungan semua pihak untuk menjadi pupuk guna menciptakan ruang tumbuh sekelompok masyarakat yang mulai menyukai seni ini. Sentuhan tangan-tangan dingin serta santun yang ramah dan tidak rumit dalam menyampaikan sebuah sikap bijaksana. Sedikit ilmu akan lebih bermanfaat bila kita sampaikan tetapi sebaliknya ilmu yang  banyak bila hanya dikunyah sendiri Cuma akan menjadi metabolisme berupa sekresi keringat yang menimbulkan aroma bau pada baju yang menurutmu super bagus itu.



(Penulis adalah warga Lampung Barat. Beralamat di Pekon Tugu Mulya, Ciptagara Kec. Kebon Tebu - Lampung Barat. Alumni SMAN 1 Sumberjaya dan menyelesaikan study di POLTEKKES LAMPUNG JURUSAN KESLING, saat ini bekerja di salah satu instansi pemerintah di Provinsi Banten serta meneruskan studynya pada konsentrasi administrasi niaga di salah satu perguruan tinggi di Banten. Riduan Hamsyah menulis sejumlah artikel untuk media lokal di Banten serta www.wartalambar.com. Pernah menjadi editor di Koran Dinamika News, Lampung. Sejumlah puisinya pernah dipublikasikan di Koran, majalah serta beberapa buku antologi, terakhir dalam buku MEMBACA KARTINI oleh penerbit Q PUBLISHER 2016 dan diundang pada event TIFA NUSANTARA 3 BATOLA Oktober tahun ini.)

Tidak ada komentar