HEADLINE

Semarak Puisi Malam Minggu Edisi-21 Karya Anak Lampung Barat

SEMARAK PUISI MALAM MINGGU EDISI Ke-21 
(Karya Anak Lampung Barat)

DI BILIK BAMBU
Karya Ahmad Rifa'i

Meraba
rasa dingin
yang menguasaiku.

Entah perasaan apa ini?

Aku di bilik bambu
menunggu datang pagi

Lereng Pesagi, Lampung Barat Juli 2016


KEDAI 
Karya Ahmad Rifa'i.

Senja nan cerah
mega hiasi langit pesagi
memacu roda, knalpot bising
memekik pecah hening
rerimba.

Kedai di lambung pematang
sapa akan maksud tujuan.

Filter putih
halus nan lembut
pelepas penat kala lelah.

Bahway 16 Juli 2016


SAHABAT
Karya Ali Siswantoro

Jangan tinggalkan aku,
saat aku bersalah
beri kesempatan
untuk membaik.

Keluarkan senyummu
dan tepuk pundakku
itu kan membuatku bahagia.

Talang delapan Sukau, 15 Juli 2016
(ini kali pertama Puisi karya Ali dipublikasikan, sejak ia mengikuti sekolah menulis karya sastra di KOMSAS SIMALABA)


JANJI PADA NEGERI
Karya Diah Febriani

Kau yang berdiri di atas sana
tawarkan sejuta janji
seakan tak ada gurat kepalsuan.

Menceritakan harapan
seperti negeri dongeng
yang akan kau pindahkan
ke alam nyata.

Janjimu membuat perih negeri
yang hanya bisa berontak dalam kepiluan
bermain dalam mimpi
kemudian menjadi mimpi lagi.

Tidakkah kau tau
kepalsuan akan keringkan tulang-tulangmu
menghisap darah di tubuhmu
dan menunggu kau beristirahat
pada kerangkeng berkarat.

Fajar Bulan,16 Juli 2016
Alamat : Fajar Bulan,Way Tenong,Lampung Barat


SEBUT SAJA GILA
Karya Q Alsungkawa.

Bukankah kita pernah dibutakan kerinduan?
Dan kita tuli, abaikan mimpi buruk yang tak terlintas di ubun-ubun.

Hingga menguras waktu untuk, demi lupa.
Rekayasa cara dilampah, bunga-bunga air, gurah, ruqiah dan bla-bla-bla.
Pula membujuk Tuhan, mengalihkan debaran.

Denyar-denyar di matamu
bagaikan hantu peri, bergelayutan di kelopak.
Lagi-lagi efisod lawas muncul, padahal sudah kukemas dan kuletakan di sudut lalu.

Semakin kutekan saraf lupa, porandalah detakan, sesak menyeruak.
Dan apalah-apalah lagi, kepala ini buntu, angan ini beku, dan sialan aku, juga gilaku.

Ciptamulya 15 juli 2016.
Kebun Tebu, Lampung Barat.


DAN HILANGNYA
Karya Titin Ulpianti

Bersamamu melewati waktu
menutup celah, merenda kisah.

Kisah yang hilang,
tak sempat terbingkai oleh serpihan ego
mimpiku termutilasi
keadaan dan waktu,
terus berjalan
tak bisa terhenti atau terulang.

Sukau,15 Juli 2016


MENYAPA DAMAI ALAM
Karya Nanang R

Kepak sayap merpati,
bersama mendung hitam gerimis menanti
tanda akan datang aroma kelopak melati.

Tersenyum, menatap lembayung
bersama melambai rumpun bambu
menari meracik irama serasi
seakan tak mau pergi tertunduk
di wajah mentari sore ini.

Tuan bercaping telah singgah
dengan senyuman damai,
terpikul hasil lelah hari ini.

Banjarnegara
11 Juli 2016
Komsas simalaba

DI ANTARA YANG TERBUANG
Karya M Sarjuli

Di sinikah tempatku ibu?

Tiga hari sudah,
tak patut aku di sini
di antara kalian yang terbuang,
aku lebih layak dari ini.

Kenapa aku dalam kantong sampah?
Di tumpukan kardus
dan berteman lalat hijau
hingga gancu mengoyak tubuhku
terdengar pekik kaget
hingga semua melihatku, meludah dan menutup hidung.

Aku sedih,
mestinya mereka tersenyum melihatku menangis
terbahak dengan tingkahku
tapi mulut enggan terbuka,
tangan kakiku kaku.

Ibu, mereka buatku takut
pandang tajam berubah miris
aku sangat takut,
sampai-sampai badanku dingin dan membiru
hingga jiwaku terbang ke surga.

Kelak kita akan bertemu di surga
meski kini ibu di dalam bui.

15 Juli 2016
Simpang3, Air Hitam


MISTERI DIBALIK JALANAN
Karya Aan hidayat

Tiadalah pagi tanpa lalui sang malam
meski mentari sedikit malu tuk bersinar.

Ditepian jurang merangkak menyusuri
jejak kabut tak sempurna
karna kepala enggan menatap dada
dibalik misteri lain tentang jalanan.

10 Juli 2016
KOMSAS SIMALABA


TITIP RINDU PADA SEKEPING NISAN
Karya Yulyani F

Pandangi lekat- lekat sudut mata mungil itu,
ada sebutir rindu terburai di sana,
bibir mungil tebar senyum kelu
tepis luka rindu kian menganga.

Tubuh nan ringkih melerai luka kalbu,
menahan rindu kian membatu.
Jiwa mungilnya berbisik,
adakah sama yang terasa?
rindu ayah, rindu separuh jiwa,
rindu sang lentera.

Pada bulir air mata, ku titip rindu melalui doa.
Pada untaian bunga, ku sampaikan kesah sedih mendera.

Pada sekeping nisan, ku titip rindu dan salam sayang
tuk ayah di surga.

Way Mengaku, 02 Juli 2016
Alamat : Jln. Raden Intan Way Mengaku Liwa Lampung Barat
Seorang wiraswasta dan anggota KOMSAS SIMALABA



KAU NAFASKU
Karya Naz Elhadzaq

Telah bisa kurasa hembus nafasmu
telah bisa ku dengar derap denyut jantungmu

Aku bahagia bersamamu
suatu hari nanti
akan kujemput kau dari belai orang tuamu

Tak ada cela dihatimu
semua sudut terukir namamu
semua sisi terbayang wajahmu

Ku ambil sehelai daun dan
ku patahkan ranting.

Hanya untuk menulis I LOVE YOU

P. Liyu I 23 Juni 2016

Tidak ada komentar