HEADLINE

Tampil Cantik dengan Jilbab Tapis

Dra. Hj. Helwiyati Komaladewi Mukhlis

WARGA Lampung, rasanya tidak ada yang tak tahu tapis. Ya, kain khas Lampung itu kini telah mendunia menembus pasar mancanegara setara dengan produk kerajinan tangan daerah lainnya, seperti kain songket dari Palembang, kain besurek dari Bengkulu, kain ulos dari Medan, dan lain sebaginya.

Meski begitu, di Kabupaten Lampung Barat (Lambar), kain yang diproduksi secara manual-tradisional dan persebarannya masih dimungkinkan untuk lebih merata itu tetap memerlukan sentuhan pembinaan secara kontinyu dari orang-orang yang sadar dan bertanggungjawab.

Beruntung, di antara sedikit orang yang memiliki ”sense of responsibilty” itu adalah Ketua Tim Penggerak PKK yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lambar, Dra. Hj. Helwiyati Komaladewi Mukhlis, istri Bupati Drs. H. Mukhlis Basri, M.M.

Kain tapis di Lambar diproduksi secara perorangan dan kelompak-kelompok kecil, masih terbatas usaha rumahan (home industry). Produknya juga bermacam-macam, mulai dari tenunan kaligrafi tapis, kopiyah, sarung, dan selendang. Semua produk yang dihasilkan kelompok-kelompok ini dikoordinir pengurus TP PKK untuk dijual kembali ke konsumen atau pemesan.

Menariknya, ada semacam stimulan agar perajin tetap bergiat dan terus memproduksi kain khas pesisir Lampung tersebut. Karenanya tak heran ketika pengurus PKK juga memberlakukan semacam pelayanan tambahan berupa subsidi atas pembelian produk dengan maksud agar kontinyuitas produksi tetap terjaga.

“Khusus untuk pengurus PKK, pembelian jenis produk tersebut disubsidi Rp500 ribu per orang. Ini diharapkan agar kain-kain yang tersedia (ready stock) cepat laku dan produksinya tak putus,” ungkap Helwiyati saat menerima “Warta Lambar” di “Lamban Gedung” (Rumah Dinas Bupati Lambar, “red”), belum lama ini.

Wanita bersahaja yang ramah dan pandai bergaul tersebut berkeinginan menggalakkan pemakaian kain tapis di Lambar. Dia bahkan telah memulainya di lingkungan lembaga binaannya, PKK dan Dekranasda, melalui pemakaian jilbab tapis.

“Saya sudah lakukan di PKK dan Dekranasda, ibu-ibu pengurusnya harus mengenakan jilbab tapis. Saya juga berharap ini akan dilakukan pengurus PKK yang ada di kecamatan-kecamatan hingga pekon-pekon dan kelurahan,” imbuh ibu tiga dara cantik ini.

Tak hanya sampai di situ, keinginan wanita yang mengaku membina lima usaha kelompok perajin batik di Krui sebagai binaan PKK itu melihat saat ini semua pegawai perempuan berjilbab mengenakan jilbab tapis.

Menurutnya, dengan mengenakan jlbab tapis ini akan menjadi jatidiri, hal yang mencirikan perempuan Lampung yang mencintai budayanya: tapis.

Bukan hanya itu, memakai jilbab tapis juga berarti memromosikan produk tersebut ke luar, setidaknya bagi orang yang melihat saat dikenakannya atau dipakainya. “Terlihat cantik sekaligus berpromosi,” ujarnya singkat.

Sekadar diketahui, TP PKK Lambar sedikitnya telah membina 25 kelompok perajin tapis yang kesemuanya berada di wilayah pesisir Krui. Semua produk yang dihasilkan kini ditampung di etalase Dekranasda untuk dijual ke pembeli.

“Jadi, fungsi Dekranasda ini selain sebagai etalase tapis dan juga produk khas lainnya di Lambar, juga sebagai pusat informasi tentang tapis. Ini obesi saya: seluruh pegawai yang berjilbab harus memakai jilbab tapis,”
pungkasnya seraya tersenyum. (“)

Tidak ada komentar